A Reply for Jeng Bernadette

Posted on January 1, 2009 by inne78.
Categories: Belief & Enlightenment.

A Reply for Jeng Bernadette adalah sebuah rekaman dialog tentang jilbab antara aku (@) dan Jeng Bernadette (#). Semoga dialog ini memberi pencerahan buat siapapun yang menyimaknya.

# : “Gue pake jilbab? Duh gue belum siap, masih banyak sisi diri gue yang harus dibenerin”.

@ : Iya dong, namanya juga manusia Jeng, harus terus berkembang dan memperbaiki diri. Ga ada tuntutan, “Pakailah jilbab, setelah diri kamu sempurna “. Proses memperbaiki diri terus berjalan walaupun kita udah ber jilbab.

# : “Gue ga mau terpaksa berjilbab. Gue mau semua dari hati gue. Gue ga mau kayak oranglain yang pake jilbab karena terpaksa atau karena fashion”.

@ : Gue setuju!. Semua hal memang harus diawali dari hati. Cuma, hatinya yang kayak gimana? kalau hatinya penuh virus, yang jadi pegangan pasti nafsu. Ujung-ujungnya, menunda. Nah, kalau hatinya sehat, yang jadi pegangan pasti iman. Hati yang sehat pasti mau bersegera Jeng. Apalagi jilbab ini urusannya wajib lo, bukan pilihan. Sama kayak kewajiban memenuhi nafkah keluarga bagi kaum laki-laki. Kebayang kan kalo para suami/ bapak berujar “Gue ga mau terpaksa nyari nafkah. Nanti aja deh, kalo hati gue dah ikhlas, gue baru cari nafkah buat anak-bini gue”.

Yah, setiap orang memang punya ‘kebebasan’ memilih dalam segala hal. Tapi setiap pilihan pasti mengandung konsekuensi. Lu ‘bebas’ milih mau pake jilbab atau ga. Tapi inget lo…sesuatu yang wajib, kalo ga dilaksanakan, dapet apa coba…?.

# : “Eh kalo gue ga pake jilbab gapapa kan? yang penting hati gue kan bersih”.

@ : Yah Jeng, kalo logikanya begitu, sekalian aja kita ga shalat, yang penting hati kita bersih. Ya ga?.

# : “Gue liat banyak yang dah pake jilbab, tapi kelakuannya jelek banget. Gue juga liat ada yang pake jilbab ‘on-off’, alias kadang dipake, kadang ga. Ih sebel banget ngeliatnya! munafik!”.

@ : Duh Jeng, ga usah menilai orang lain deh. Yang penting kita berjilbab dan kita tunjukkan akhlak terbaik kita. Sibuk menilai orang lain, bikin kita pusing Jeng. Kita konsen aja ma diri kita sendiri dulu, kewajiban mana yang dah kita penuhi, mana yang belum.

# : “Banyak jilbaber yang ga fashionable banget, kumel and kesannya ga berpendidikan”.

@ : Jeng jeng, tiap orang tu berbeda. Banyak kok perempuan yang belum berjilbab, tapi ga fashionable. Entah karena ga ngerti, atau males ngurusin tetek-bengek fashion. Sebaliknya, banyak perempuan yang berjilbab, sangat fashionable. Buka deh mata Jeng.

Yang berjilbab kesannya ga berpendidikan?. Plis dong ah! Jeng gaul di mana sih selama ini?.

Banyak jilbaber yang meraih gelar magister atau doktoral, dari luar negeri pula!. Banyak jilbaber jadi dokter, peneliti, eksekutif di perusahaan, dosen, pengusaha muda dan sebagainya. Banyak jilbaber yang jadi ibu rumah tangga tapipunya kualifikasi tinggi; mereka punya visi and misi yang benar tentang sebuah keluarga. Jelas, butuh banyak ilmu dan intelejensi buat itu.

Tiap orang punya prioritas berbeda Jeng. Contohnya? Ga semua orang kalo punya uang sibuk ke mall, nyari sepatu and baju; atau ke kafe, makan and nonton live music. Ada yang lebih suka uangnya dipake buat nambah ilmu, beli buku atau ikut kursus; atau rihlah, silaturahim ma teman temannya, atau jalan-jalan ala wisata alam. Sekali lagi, prioritas setiap orang bisa sangat berbeda. Dan, kita ga berhak menilai orang dari pilihan prioritas mereka.

Allah pun ga menilai manusia dari bajunya Jeng. Kita sering menilai fisik and fashion paling penting, tapi coba deh pikirin, kita ‘pulang’ nanti pake apa? ga peduli Jeng putih atau item, punya baju bagus atau ga, Jeng bakal pake kain belacu yang warnanya putih. Dibelit trus dimasukin tanah, and siap-siap deh bermalam pertama di alam kubur.

“Makanya mumpung hidup, kita harus stylish” mungkin begitu kata Jeng.

Ah Jeng Jeng, ga ada yang ngelarang kok buat fashionable atau stylish. Tapi kewajiban dari Yang ngasih kita hidup, dipenuhin juga dong. Itu kok yang bakal ditanya nanti.

Nih, gue punya kisah. Seorang penggarap sawah diminta menggarap sebidang sawah. Kewajiban dia adalah menyetorkan beras di akhir tahun pada pemilik sawah. Sang penggarap mulai menanam padi tapi di tengah sawah dia menemukan banyak lele. Selanjutnya, dia malah sibuk memelihara lele, sementara tanaman padinya terbengkalai. Di akhir tahun ketika sang pemilik sawah menagih beras, dia tidak bisa menjawab. Dia sodorkan lele, tapi ditolak mentah-mentah oleh sang pemilik sawah.

“Buat gue yang bernilai tuh beras. Lele? ga level!. Makan aja sendiri. Eh denger ya, bukannya lu ga boleh melihara lele di sawah gue, tu bonus buat lu, tapi laksanakan dong kewajiban lu. Urus padinya, and setor berasnya ma gue. Sebenernya gue juga ga butuh beras lu. Gue cuma mau nguji, lu nurut ga mau gue, lu bisa dipercaya atau ga. Tadinya, kalo lu nurut and bisa dipercaya, gue mau kasih lu villa ma kebun gue. Gratis. Tapi karena lu begini, ga jadi deh.”.

# : “Citra jilbab sekarang jelek ya. Ini gara-gara kelakuan sebagian jilbaber yang jelek atau buka-tutup jilbab seenaknya. Ini PR buat jilbaber yang lain buat memperbaiki citra jilbab”.

@ : Yo wis.. Jeng pake jilbab dulu trus nti kita benerin bareng-bareng tu citra, gemane? ga rame klo Jeng ga ikutan.

Actually, jilbab adalah jilbab. Citra jilbab tidak akan pernah jelek. Kalo ada kelakuan jilbaber yang ga bener, ya citra perempuan itu yang jelek, bukan jilbabnya. Shalat, mencegah dari perbuatan mungkar. Kalo ada orang habis shalat malah berbuat mungkar, bukan kewajiban shalatnya yang cacat atau gagal, tapi orang itu yang gagal menerapkan nilai shalat dalam hidup sehari-hari. Ayo Jeng, jangan mau terjebak dalam kesalahan berpikir, be objective.

# : “Ribet ah pakenya. Lagian, panas!”.

@ : Bo! mau kepanasan di sini, atau nti di akhirat Jeng? katanya panas dunia cuma seperberapanya panas akhirat lo.. Ga pengen Jeng nanti dapet privillege, dapet tempat yang teduh di akhirat?.

Ribet? Aduh Jeng, katanya Jeng ini fashionable, kirain Jeng udah tau kalo sekarang banyak busana muslim yang ringkas.

# : “Eh gue banyak liat jilbaber jadi pengemis. Trus gue liat banyak artis yang setelah berjilbab jadi ga laku di sinetron. Jangan-jangan, pake jilbab malah bikin rezeki tersumbat ya?”.

@ : Oalah Jeng… ma orang kafir aja Allah ga pernah pelit bagi-bagi rezeki.

Atau, lihatlah keadaan Jeng sendiri, sekalipun ada kewajiban dariNya yang belum Jeng penuhi, tapi Allah selalu kasih semua yang Jeng butuhkan. Coba deh Jeng cek.

Jeng, sudahlah, kita tunjukkan saja kita patuh padaNya, dan mau diatur olehNya. Urusan rezeki biar Dia yang tangani.

# : “Ah males banget mikirin soal ini. Gue hidup buat nyari senang kok”.

@ : Ya sutralah Jeng, gue cuma menyampaikan apa gue harus sampaikan. Ini ayat lo…bukan karangan gue. So gue tinggal lapor aja sama Yang punya ayat, kalo gue dah sampaikan semuanya sama lu, dan sekarang urusannya tinggal antara lu langsung sama Dia. Jeng mau hidup senang? sama dong, siapa yang ga mau. Yah dah, gue doain hidup kita semua senang, ga cuma di dunia, tapi juga di akhirat, okeyyyy. Aamiin.

Sahabatku, dialog ini lahir atas dasar cinta, bukan kebencian. Aku menerima dirimu apa adanya, tapi aku sungguh berharap kita bisa berjalan bersama di jalanNya. Aku berharap kita semua kelak selamat, di hari pengadilan, di hadapanNya. Mulailah dengan jilbab, sahabatku… dan mari kita berjalan bersama tuk raih rahmatNya.

…..best friend forever, with love, in the Name of Allah…..

MASIH PERCAYA NENEK MOYANG KITA KERA?

Posted on by inne78.
Categories: Science & Tech.

Siapa bintang iklan XL? Luna Maya? Bukan! Itu lo yang satu lagi, yang bulunya banyak. Orang utan? Yak tul. Tau ga seh, katanya, orang utan itu saudara kita, dan kera adalah nenek moyang kita!. Bener ga seh?.

Kenal Charles Darwin?. Charles Darwin adalah penggagas teori evolusi. Teori ini mencetuskan ide bahwa manusia adalah hasil perkembangan dari mahluk sejenis orang utan atau kera.

Pak Charles mengatakan bahwa terdapat bentuk perantaraan antara nenek moyang kita dengan generasi manusia modern seperti kita. Bentuk-bentuk itu adalah ‘manusia’ Australopithecus, Homo habilis, Homo erectus dan Homo sapiens.

Namun, teori ini banyak dibantah oleh para ahli anatomi. Mereka memperlihatkan bahwa fosil Australopithecus (yang berarti Kera Afrika Selatan) adalah fosil spesies kera biasa yang telah lama punah dan hampir tidak ada kemiripannya dengan manusia.

Penelitian lain dari para ahli palaentologis memperlihatkan bahwa Australopithecus, Homo habilis dan Homo erectus hidup di bagian dunia yang berbeda pada saat yang bersamaan.

Dalam pencarian fosil, ternyata tidak diketemukan bentuk-bentuk perantara (Pak Charles menyebutnya ‘Rantai yang Hilang’). Semua fosil yang diketemukan justru membuktikan bahwa kehidupan muncul dalam saat yang sama, dalam bentuk sempurna dan terencana, tanpa melalui bentuk perantara dulu. Hal ini juga bukti bahwa kehidupan tidak terjadi secara kebetulan melainkan karena adanya penciptaan.

Teori lain yang dikembangkan Pak Charles dan kawan-kawannya adalah :

1.SEL TUNGGAL.

semua spesiesmahluk hidup berasal dari sel tunggal. Sel ini hidup di bumi 3,8 miliar tahun yang lalu. Sel tersebut terbentuk secara kebetulan karena hukum alam.

Masih ingat tentang sel kan? Walaupun sel berukuran kecil, susunan dalamnya sangat rumit. Bagaimana mungkin suatu hal yang sangat rumit terbentuk secara kebetulan?.

Sel berperan sangat besar dalam menyusun miliaran spesies mahluk hidup di bumi. Namun, bagaimana sebuah sel bisa menyusun miliaran spesies hidup yang lebih rumit? Teori Pak Charles tentang sel tunggal ini tidak mampu menjawabnya.

2. Seleksi alam.

Teori ini berpandangan bahwa mahluk yang lebih kuat dan pandai dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya, akan bertahan hidup.

Perhatikan contoh berikut. Rusa hidup di di hutan sejak jaman dulu. Mereka hidup di bawah bayang-bayang binatang buas dan kuat seperti singa. Sepanjang hidupnya mereka jadi buruan singa. Perhatikan, apakah saat ini rusa sudah musnah? Ternyata tidak. Atau, apakah rusa-rusa sudah menyesuaikan diri dengan keadaan dan mengubah dirinya menjadi hewan yang buas? Tidak juga.

3. PEMBENTUKAN SPESIES BARU.

Teori ini diajukan oleh Lamarck. Begini kira-kira bunyinya : sifat-sifat mahluk hidup dapat berakumulasi dari satu generasi ke generasi selanjutnya sehingga menciptakan spesies baru. Misalnya, menurut teori ini, jerapah adalah hasil perkembangan dari kijang. Kok bisa?. Karena kijang memakan dedaunan di pohon yang tinggi, lambat-laun leher mereka akan memanjang, dan akhirnya mereka berkembang menjadi spesies baru yaitu jerapah.

Teori ini ditangkis oleh Hukum Keturunan Mendel yaitu bahwa sifat-sifat mahluk diwariskan sama pada generasi berikutnya. Variabilitas (keanekaragaman) dapat saja terjadi, misal ayam betina putih yang menghasilkan anak ayam berwarna hitam atau putih, tetapi tidak sampai menghasilkan spesies baru, misalnya sapi.

4. Teori SINTETIS MODERN.

Teori ini mengungkapkan faktor mutasi sebagai faktor tambahan bagi keberagaman variasi mahluk hidup. Mutasi? Apaan tuh?. Mutasi adalah penyimpangan dalam gen yang disebabkan faktor luar seperti radiasi atau kesalahan penggandaan gen. Menurut teori ini, beberapa organ vital seperti telinga, sayap, paru-paru, dan mata, adalah hasil mutasi dari organ lainnya.

Teori ini dibantah oleh ahli genetika; mutasi merupakan proses kecil, acak, dan jarang. Penelitian genetika justru membuktikan bahwa semua mutasi justru bersifat merusak. Contoh dari mutasi terhadap sel manusia adalah penyakit kanker.

Semua uraian di atas memperlihatkan bahwa teori evolusi dan kawan-kawannya sebenarnya sudah terbantahkan. Teori-teori di atas sangat bertentangan dengan sains dan tidak didukung dengan adanya bukti. Misalnya, sampai saat ini tidak diketemukan fosil-fosil perantara. Bentuk-bentuk mahluk perantara yang ada saat ini adalah rekaan Pak Charles dan kawan-kawannya.

Namun, masih banyak kalangan yang kukuh mempertahankan teori-teori di atas. Tanya kenapa?. Karena teori evolusi dan kawan-kawannya merupakan keyakinan bagi para pengikut filsafat materialis. Apa lagi nih?. Aliran filsafat ini menganggap bahwa semua bentuk kehidupan tercipta dari materi, secara kebetulan, sebagai hasil dari proses di alam. Aliran ini menolak fakta penciptaan dan adanya Tuhan. Padahal, bagi siapapun yang mampu menggunakan hati dan pikirannya secara jernih, pasti paham bahwa mahluk hidup yang luar biasa rumit susunannya tidak mungkin terbentuk dengan sendirinya, dan secara kebetulan. Pasti ada yang menciptakan mahluk-mahluk itu. Ia yang melengkapi mahluk-mahluk itu dengan organ-organ yang super rumit dan canggih, dalam sebuah desain yang bagus, lalu sempurna dan diisi dengan ruh atas kehendakNya.

Mau contoh nyata?. Kita amati mata kita.

Perhatikan tangan kita yang sedang memegang mouse lalu angkat kepala dan lihat ke sekeliling. Sekarang pikirkan, adakah alat yang mampu menangkap gambar setajam mata kita?. Sebuah kamera 12 megapiksel dengan lensa Carl Zeiss sekalipun, tidak akan menyajikan gambar langsung setajam mata kita.

Kita amati telinga kita. Kita tahu teknologi stereo dan HI-FI, yang katanya bisa menghasilkan suara seindah aslinya. Namun coba saja, saat alat dinyalakan atau musik diganti terdengar bunyi desis. Perhatikan bahwa ini tidak terjadi pada telinga kita yang super canggih. Saat kita bangun tidur, tanpa perlu kita nyalakan, tanpa desis, telinga langsung berfungsi dan mampu menangkap suara dengan tajam dan jernih.

Jika suatu alat yang lebih kuno dihasilkan bukan secara kebetulan, melainkan oleh usaha panjang para produser alat elektronik, maka mungkinkah mata dan telinga yang supercanggih terbentuk secara kebetulan?.

Disarikan dari :

Harun Yahya, Kesalahan Konsep Teori Evolusi, Senayan Abadi Publishing.

Website : www.harunyahya.com.

Takdir VS Usaha

Posted on by inne78.
Categories: Belief & Enlightenment.

TANYA KENAPAAAAAA?

Sekelompok murid sedang bertanya tentang takdir pada gurunya. Sang guru mengatakan “Kemampuan setiap orang itu terbatas dan kapasitasnya sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Oleh karena itu hasil akhir dari segala yang kita kerjakan ga akan berbeda dengan apa yang udah ditetapkan Allah”.

Ucapan guru itu agaknya membuat murid-muridnya penasaran. “Kalo begitu buat apa kita usaha, Bu? kan hasilnya udah ditetapkan” sahut seorang murid dengan nada apatis. Bu guru balik bertanya, “Pernah ga kamu amati orang yang sedang bekerja?”. “Ya” jawab sang murid. “Apakah hasil kerja orang yang rajin sama dengan orang yang malas? Siapa yang biasanya memperoleh kesuksesan, yang rajin atau yang malas?”, spontan murid itu menjawab “Beda, Bu. Orang yang rajin biasanya lebih sukses”. “Nah, itu dia. Hasil akhir yang diperoleh seseorang itu sesuai dengan usahanya. Itu yang disebut takdir’’.

Analogi lain tentang takdir Allah adalah seperti seorang guru yang mengetahui persis kemampuan setiap muridnya. Menjelang ujian, sang guru memperkirakan kemungkinan (karena manusia, maka cuma kemungkinan) nilai yang didapat setiap muridnya; ada murid yang mendapat nilai 85, ada yang 63, ada yang 14, dan semacamnya. Di bagian atas catatan ‘prakiraan’ itu tercantum tanggal pengumuman hasil ujian, misalnya Senin 12 Juni 2009. Pada Senin 12 Juni 2009, hasil ujian diumumkan, ternyata ga ada satupun prakiraan guru yang meleset. Lalu, dalam hal ini, apakah seorang murid yang memperoleh nilai kecil boleh memprotes gurunya “Ni gara-gara prakiraan Ibu sih!”??. Ga kan!. Hasil akhir tersebut meskipun sudah diperkirakan gurunya, tetap ditentukan oleh usaha belajar si murid. Hasil usaha manusia meskipun sudah diketahui oleh Allah, tetap merupakan akibat dari usaha manusia itu sendiri. Wilayah manusia adalah wilayah usaha. Ada wilayah lain, di mana ga seorang pun tahu apa yang bakal terjadi, di sana lah manusia wajib tawakal.

Manusia adalah mahluk Allah. Usaha yang dilakukannya harus sesuai dengan juklak (petunjuk pelaksanaan) dari Allah. Mungkin saja suatu hasil usaha dianggap baik menurut ukuran manusia, namun di mata Allah ga mendapat nilai apa–apa, karena cara kerjanya ga sesuai juklak. Contohnya, saat ulangan seorang murid mencontek, lalu ia memperoleh nilai bagus. Dia mungkin memperoleh penghargaan baik dari orangtua, guru dan teman-temannya, tapi dia gagal mendapat nilai baik dari Allah. Mencontek bukanlah perbuatan yang sesuai dengan juklakNya, sehingga sebesar apapun nilai yang diperoleh dengan mencontek, tidak akan mendapat nilai dariNya. Ada dua kriteria utama yang harus dipenuhi agar semua usaha kita mendapat nilai di mataNya, 1. ikhlas (bermotivasi karena Allah semata), 2. sesuai dengan juklakNya.

Manusia diberiNya kemerdekaan penuh dalam berusaha, mengambil keputusan dan sebagainya. Tapi, pilihan apapun yang diambilnya, pasti ada dalam wilayah dan aturanNya. Jika seseorang rajin belajar kimia, pasti ia akan pandai dalam ilmu kimia. Inilah qadha (kepastian). Tingkat penguasaannya terhadap ilmu kimia, sebanding dengan usaha dia dalam mempelajarinya. Inilah qadha atau takdir (batasan).

Bagaimana jika manusia berbuat maksiat? Apakah itu takdir juga?. Apapun perbuatan manusia pasti terjadi dengan kemampuan dan kekuasaan yang diberikan Allah padanya. Namun jika seorang manusia memilih berbuat maksiat, bukan berarti Allah yang memerintahkan dia bermaksiat. Analoginya seperti ini, ada teman kita yang berzina, lalu kita beri nasihat, namun dia ga mau berubah. Dia tetap saja senang berzina. Apakah itu berarti kita yang menyuruh dia berzina? Tentu aja ga. Sebagai manusia dia kan diberikan akal dan hati oleh Allah, untuk memilih tindakan yang benar.

Bagaimana dengan bencana? Bencana bisa jadi bukan takdir Allah secara langsung. Keteraturan dan hukum-hukum alam merupakan hukum Allah yang pasti dan ga dapat diubah. Siapa saja yang melanggar atau ga mengikuti hukum Allah, pasti akan menuai bencana. Contohnya, pembalakan hutan. Jika saja manusia konsisten menjaga hutan, bumi tidak akan tandus, dan tidak akan timbul pemanasan global, banjir, longsor, sebagainya. Itu adalah hukum Allah. Bagaimana dengan gempa atau tsunami? itu takdir Allah juga. Bencana seperti gempa atau tsunami memang sulit diprediksi; namun Allah sudah mengingatkan manusia untuk terus mengenali alam dan gejala-gejalanya. Selanjutnya, manusia wajib berusaha memperkecil resiko, misalnya dengan membuat sistem penanganan bencana yang baik.

Kalau kita sakit? Itu takdir juga. Banyak orang menuduh mikroba atau virus sebagai biang penyakit. Bahkan ada juga yang menganggap Allah menzhalimi manusia dengan membuat aneka macam penyakit. Memang setiap penyakit diciptakan oleh Allah, namun penciptaannya ga secara langsung, hanya potensi-potensinya. Misalnya, kurang olahraga dan merokok, adalah potensi penyakit radang paru-paru. Contoh lainnya, perilaku seks bebas adalah faktor utama penyebaran penyakit AIDS. Kalo ga mau kena penyakit ini, ya jangan dekati zina dong.

Sebuah kompilasi dari

1.A. Khoiron Mustafiet, Takdir 13 Skala Richter, QultumMedia, 2005

2.Hamim tohari dan Boy Jauh Hari, Al-Qalam, 5 Januari 1996

3.Musyaffa Lc, Ummi No. 3/XVIII Juli 2006

Dewasa?

Posted on by inne78.
Categories: Belief & Enlightenment.

Sahabatku, kedewasaan seseorang tidak bisa diukur dengan usia, adakalanya seseorang yang sebenarnya sudah dewasa tetapi perilakunya kekanak-kanakan. Sementara, tidak sedikit orang yang usianya masih muda tetapi mampu bersikap dewasa.

Sayangnya kedewasaan banyak ditafsirkan salah oleh banyak orang. Jika melihat orang-orang yang dalam kehidupannya tampak diam dan serius spontan dikatakan dewasa, sedangkan jika melihat orang yang dalam kehidupannya selalu bermain, gembira dan bercanda, spontan dikatakan tidak dewasa.

Jika anda terlanjur berkesimpulan demikian, maka ubahlah, karena yang menjadi ukuran kedewasaan adalah kematangan spiritual. Kedewasaan bisa dilihat bagaimana seseorang mengambil sebuah keputusan. Sebagai contoh, suatu ketika Khalifah Umar bin Khattab RA menuju Mekah. Saat itu seorang penggembala kambing turun dari bukit dan mendekati rombongan Khalifah Umar. Umar RA berkata padanya, “Hai Fulan, juallah padaku satu ekor di antara kambing-kambing yang kamu bawa itu”. Penggembala itu berkata, “Saya hanyalah budak, dan kambing-kambing ini milik tuan saya”. Lalu Umar RA berkata padanya, “Katakan saja pada tuanmu bahwa kambing itu dimakan serigala”. Penggembala itu spontan menjawab, “Lalu di mana Allah?”. Maka terkesimaklah Umar RA sambil meneteskan air mata. Seketika itu juga, beliau pergi bersama budak itu menemui tuannya. Kemudian budak itu dimerdekakan oleh Umar RA dari tuannya. Umar RA berkata pada budak itu, ”Kalimatmu telah memerdekakanmu di dunia ini dan aku mengharapkan semoga kalimat ini memerdekakanmu di akhirat nanti”.

Dikutip dari :

Imam Maliki Ralibi, Fun Teaching, Duha Khazanah, 2008.

PRE WEDDING GIFT

Posted on by inne78.
Categories: Love & Relationship.

ESENSI NIKAH

Manusia sering menyangka menikah merupakan kehendak dan hasil usaha manusia sendiri. Padahal Allah lah yang menciptakan rasa & dorongan itu pada manusia. Allah juga lah yang merancang pernikahan sebagai saluran yang bersih & halal untuk memperoleh ketenangan, kebahagiaan, kehormatan dan keturunan.

Menikah diperintahkanNya dalam Al Qur’an dan dicontoh rasulNya dalam sunnahnya; dengan demikian menikah adalah amanah dan juga ibadah. Ijab kabul pernikahan adalah pelimpahan amanat, bukan hanya pelimpahan amanat dari wali perempuan kepada pengantin lelaki, tapi juga pelimpahan amanat dari Allah kepada suami.

anda siap menikah?

Secara fisik, bila seseorang telah baligh maka ia telah siap menikah. Namun disamping kesiapan fisik, ada tiga faktor lain yang harus disiapkan yaitu :

Pertama, faktor kedewasaan rohani. Faktor ini adalah faktor utama karena menjamin kemampuan bersikap dan bertindak secara benar saat menghadapi berbagai tantangan. Seseorang harus memahami bahwa menikah bukan hanya menimbulkan berjuta keindahan namun juga berjuta tantangan. Bagi istri misalnya, dibutuhkan kesiapan dan keiklasan untuk memberikan sebagian otoritas atas dirinya pada suami. Sementara bagi laki-laki, dibutuhkan kesiapan untuk menjadi pemimpin dan pembimbing bagi seluruh anggota keluarganya.

Persiapan rohani bisa dilakukan dengan usaha untuk memurnikan ketaatan padaNya, menguatkan hubungan denganNya serta dengan mengikuti pembinaan akhlak.

Kedua, persiapan pemikiran. Persiapan pemikiran itu antara lain mengetahui niat dan tujuan menikah, mengetahui hukum-hukum sekitar pernikahan, apa saja hak dan kewajiban suami istri, bagaimana mengelola keuangan rumah tangga, bagaimana menyenangkan pasangan, bagaimana mendidik anak dan sebagainya. Persiapan pemikiran dapat dilakukan dengan cara membaca buku, menghadiri kajian tentang pernikahan, atau dengan banyak berdiskusi dengan orang-orang saleh yang telah menikah.

Ketiga, persiapan harta. Persiapan ini meliputi persiapan biaya pernikahan, juga tentang sumber penghasilan dan biaya hidup pasca menikah.

DENGAN NIAT APA ANDA MENIKAH?

Setiap perbuatan tergantung padaniatnya

Apa niat anda saat mencari (dan menanti) jodoh anda? Apa niat anda (dan keluarga anda) saat menerima lamaran, saat merancang acara, saat menyebar undangan, saat berhias … niat adalah landasan perbuatan. Niat akan berpengaruh pada hidup anda; saat-saat anda bercengkerama dengan suami, saat anda kesakitan ketika melahirkan, saat anda terjaga tengah malam untuk mengganti popok bayi anda atau menemani suami yang sakit, saat anda mengantar anak anda sekolah…

Ketika seorang yang tampan (atau cantik), baik, mapan, berpendidikan tinggi, dan berasal dari keluarga terhormat, melamaranda (atau bersedia dilamar anda), atas dasar apa anda akan melakukannya? menolaknya, atau menerimanya?

Periksa motif & tujuan hidup anda, lalu bersihkan niat anda. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki niat, bahkan bagi mereka yang telah menikah sekalipun.

·Karena menikah adalah ibadahmakaniatkanlah menikah untuk mencari keridhoanNYA, bukan sekedar mengejar cinta mahlukNya.

Bagaimana dengan cinta? ‘Cinta akan cepat lenyap dengan lenyapnya sebab’ begitu kata Ibnu Qayyim; kulit bakal keriput, harta bisa habis, anak2 akan pergi.

Bertanyalah tentang cinta pada para orangtua di sekitar kita, mereka yang telah lama mengarungi biduk rumah tangga. Kita akan menemukan jawaban bahwa penyebab cinta yang insyaALLAH takkan pudar adalah makna kehadiran diri kita bagi pasangan kita. Terutama, apakah kita bisa menjadi penyejuk hati dan pandangan baginya?

·Menikahlah untuk menjaga dan membersihkan diri dari dosa, semata karena takut padaNYA. Bukan karena menuruti nafsu syahwat semata. Hubungan biologis itu penting dan sesuai dengan fitrah manusia, namun menikah bukan ’sekedar’ hubungan biologis semata.

·Menikahlah untuk memuliakan diri, pasangan dan keluarga, dengan mengharapkan barakah dariNYA, bukan mengharapkan keuntungan, kekayaan, kekuasaan dan sebagainya. Hal-hal yang bersifat materi adalah titipan dariNya; dan setiap titipan, sebelum diambil kembali olehNya, harus disyukuri dan dimanfaatkan untuk amal ibadah.

·Berharaplah keturunan yang banyak dan soleh. Bukan malah berencana membatasi keturunan karena khawatir tentang rizqiNya. Allah menekankan bahwa setiap anak memiliki rizkinya masing-masing, tinggal bagaimana jihad orangtua dalam menjemput rizki anak-anaknya. Rasulullah juga memerintahkan untuk memperbanyak anak, supaya umat Islam yang berkualitas bertambah banyak.

·Menikahlah untuk menegakkan dakwah. Kenapa ? karena setiap manusia adalah DA’I.

Janganlah sekedar mengikuti kebiasaan–kebiasaan dan nilai-nilai di tengah masyarakat, karena banyak diantaranya mengandung kemusyrikan.

Sandarkan pemikiran anda pada sumber yang jernih (Quran dan Hadist). Sebarkan nilai-nilai dan kebiasaan baik di tengah keluarga, tetangga, teman-teman, dan sebagainya. Cetaklah orang-orang yang juga akan terjun dalam dakwah.

Namun, terdapat perbedaan yang besar antara berniat dengan sungguh2 dengan bersungguh-sungguh mengada-adakan niat. Kita sering menyangka punya niat, padahal itu cuma angan-angan yang lalu kita jelaskan dengan akal. Mereka yang telah memiliki niat yang bersih (murni karena Allah) biasanyahatinya lebih tenang dan bebas dari pemikiran yang kotor.

PILIH-PILIH CALON PASANGAN

Noone Is Perfect

Manusia sering terjebak dalam obsesi tentang kesempurnaan atas calon pasangannya. Menetapkan kriteria (dan pilih-pilih) diperbolehkan, namun tetap harus disertai keiklasan atas siapapun yang Allah tetapkan. InsyaALLAH keiklasan akan memudahkan manusia dalam dalam beradaptasi & bertoleransi dgn kekurangan pasangannya.

Umumnya ada 4 hal yang dipertimbangkan :

1.harta; untuk memberikan berbagai fasilitas kemudahan dalam rumahtangga nanti

2.keturunan dan kemampuan reproduksi; untuk memberikan keturunan yang baik

3.kecantikan; sifatnya relatif, dan kadang manipulatif

4.kebaikan agama; untuk menjamin kebaikan pribadi dan keluarganya nanti

Sedangkan kaidah utamanya antara lain :

1.Kesamaan akidah (Islam)

2.Melaksanakan kaidah2 pokok Islam : shalat wajib, shaum ramadhan, membayar zakat, haji jika mampu, menutup aurat, mencari nafkah yang halal dll

3.Berakhlak mulia

4.Memiliki kesanggupan untuk berubah jadi lebih baik

5.Memiliki semangat & kesediaan untuk terlibat dalam dakwah

Menilai calon pasangan bukanlah hal mudah. Tidak mudah menilai keber-agama-an seseorang melalui shalat, puasa dan ritual Islam lainnya. Tidak mudah menilai akidah yang ada dalam hati, namun, akidah bisa mempengaruhi sikap dan perilaku.

·Amatilah akhlak dan kejujurannya kata-katanya.

·Amati rasa tanggungjawab dan penunaian amanahnya.

·Amati semangat dan sikapnya terhadap Islam.

Tanyakan keadaannya pada orang-orang yang dekat dengannya, orang-orang yang ‘netral’ dan dapat dipercaya. Kesekufuan atau kesetaraan dalam usia, pendidikan, ekonomi, bahkan budaya boleh saja ikut dipertimbangkan; namun tolak ukur yang utama tetaplah soal akidah.

Ketika data lengkap sudah didapat, ajukan padaNya lewat sholat istikharah. Jagalah hati dari keterikatan yang berlebihan padanya sebelum anda bertanya padaNya. Anda baru bisa menimbang & beristikharah dengan JERNIH bila anda belum terikat padanya. Kenapa harus bertanya padaNya? Karena Ia yang Maha Tahu siapa yang terbaik untuk kita. Bangunlah keiklasan atas apapun yang Allah akan tetapkan pada kita.

MITOS SULIT NIKAH

Dalam Islam tidak mengenal istilah sulit nikah. Pencarian tidak lewat doa saja, karena Allah SWT memberi jawaban atas segala permintaan disesuaikan dengan kadar usahanya. Sikap yang terbaik adalah proaktif, yaitu berdoa sekaligus melakukan upaya yang dibenarkan Islam.

Setelah doa dan usaha dilakukan, jodoh belum juga datang, apalagi yang harus dilakukan? sabar, tetap berpegang pada Islam, dan pasrah. Pasrah? Ya, pasrah dalam arti menyerahkan diri padaNya, karena kita adalah hambaNya, kita hidup dengan tujuan tertentu yang ditetapkanNya, dan Ia yang Maha Tahu yang terbaik untuk setiap hambaNya. Bukan pasrah karena kecewa, marah, bosan, melarikan diri, atau putus asa; bukan karena masalah ‘tahu diri’, gender, minder, probabilitas, atau keadilan.

Dalam Al Quran Allah mengarahkan manusia agar optimis dalam hidup. Manusia seringkali cepat mengeluh dan tergesa-gesa. Adakalanya pertolongan Allah tidak sesuai dengan logika atau harapan manusia; namun bukan berarti Allah mengabaikan mahlukNya. Manusia juga kadang berprasangka buruk padaNya, bahwa Ia tidak adil dan suka menghukum manusia; padahal Allah tidak pernah menzhalimi mahlukNya. Bahkan saat manusia diberiNya kemudahan pun, manusia sering berprasangka buruk padaNya; prasangka itu muncul dalam bentuk kesombongan; manusia menyangka kemudahan itu suatu kebetulan, keberuntungan, atau hasil usahanya semata.

MENYEGERAKAN ATAU TERGESA-GESA?

Menikah adalah satu dari tiga sunnah yang harus disegerakan. Bahkan mereka yang menyegerakan menikah atau membantu orang bersegeramenikah, dijanjikan akan mendapat perlindunganNYA di Yaumil Hisab. Namun, menyegerakan bukan berarti tergesa-gesa. Apa bedanya?

Jika anda naik motor dan menemui tikungan tajam, apa anda akan langsung belok tanpa mengurangi kecepatan untuk cepat sampai? atau anda akan kurangi kecepatan, menelikung miring, dan baru belok dengan menambah kecepatan lagi?. Kalau memilih yang pertama, anda mungkin akan terpental, dan baru setelah mengobati luka anda melanjutkan perjalanan lagi. Tidak mengurangi kecepatan ternyata tidak membuat anda sampai lebih cepat. Kalau anda memilih cara kedua, insyaALLAH anda dapat sampai tepat waktu, dengan keadaan selamat.

Jalan sebelum belok adalah masa lajang. Belokan adalah masa peralihan, proses menuju pernikahan. Jalan setelah belok adalah masa setelah menikah. Ketergesaan ditandai dgn perasaan tidak aman dan hati yang diliputi kecemasan, sedang menyegerakan menikah insyaALLAH akan mendatangkan ketenangan, sekalipun saat dirundung berbagai ujian. Ketenangan dan ujian bukanlah dua hal yang bertentangan;, namun ini tidak lahir dari kecemasan atau perasaan tidak aman.

TENTANG WALIMAH DAN BARAKAH

Mahasuci Allah yang telah menjodohkan kedua insan jauh sebelum keduanya bertemu.

Mahasuci Allah yang telah mengijinkan berlangsungnya akad nikah dgn restu kedua orangtua dan hadirin.

Mahasuci Allah yang dengan kasihsayangNYA telah menghalalkan bagi keduanya apa yg sebelumnya mutlak diharamkan.

Walimah (resepsi) adalah ungkapan syukur. Islam menganjurkan walimah untuk menampakkan nikmat dariNYA, demi mengagungkan kemurahanNYA. Walimah juga untuk menghindarkan teman/tetangga/saudara kita dari fitnah & tindakan memfitnah kita.

Seyogyanya walimah dilakukan sejauh kemampuan kedua belah pihak. Jika walimah dikaitkan dgn prestise keluarga maka pernikahan akan berubah menjadi masalah harga diri. Orientasi masyarakat akhirnya lebih memperhatikan hal-hal yang mengangkat prestise daripada apa yang membawa kebaikan bagi pengantin, keluarga dan masyarakat pada umumnya.

Dalam pernikahan yang paling utama adalah barakah. Pernikahan yang barakah akan menumbuhkan jalinan kasih sayang; makin lama makin sayang. Pernikahan yang barakah juga insyaALLAH akan menumbuhkan kebaikan bagi pasangan itu dan orang orang di sekitar mereka. Sebagian pernikahan kurang barakah jika motif, tujuan, dan niat pasangan itu maupun keluarganya kurang tepat; sebagian lagi karena proses pra nikah yang kurang bersih dan berubahnya tujuan atau menurunnya akhlak pasca nikah.

A compilation from :

  1. Kado Pernikahan Untuk Istriku ‘M. Fauzil Adhim’
  2. Tuntunan Pernikahan Dan Perkawinan ‘Abdul Aziz Salim Basyarahil’
  3. Majalah UMMI dan NIKAH

A Testing Series

Posted on July 1, 2008 by inne78.
Categories: Belief & Enlightenment.

There must be something in your life that you have spent a lot of time and energy to get. Think of when you were in school, a time of frequent exams taken to prepare yourself for entrance into the university of your choice. Most young people regard such exams as turning points in their lives, because these exams will determine the shape of their future. They prepare for years for this event, give up their sleep and special activities, vacations, and other entertainment. Totally focused on entering their chosen university, they remain patient and determined to achieve this goal.

Now, consider the situation of those people whose most important aim is to own a nice house. In order to afford their dream home, they must first have the financial ability to buy it. Therefore, they will work day and night to get a good job and then move on to higher positions and larger salaries. After years of self-sacrifice, they will be able to buy or build their dream house.

As these examples show, people often have to work with great determination for years in order to overcome all of the obstacles standing between them and the object or goal to which they attach such value. Furthermore, if people pursue financial power, social respect, reputation, or a particular career, they will have to exert serious effort in the face of various setbacks and, as they say, "give something of themselves."

But here we must consider an important point: The above examples are about the transitory pleasures of this worldly life, all of which will disappear with the person�s death or may be lost suddenly due to some unexpected mishap. For example, a young person who spends years working assiduously to pass an exam may be killed in an accident before taking that exam. Or, a person�s effort and energy expended in the quest of buying a house may be disastrously undone in an instant through fire.

All of the pleasures sought after in this earthly life, no matter how hard we may work for them, are transitory. But there is also a real and genuine life of endless pleasure, one that will never be lost or consumed, one that human beings will enjoy for eternity: the life after death that believers work so hard in this life to attain. They regard this goal as being far more important than anything else and always keep it before their eyes.

So, this worldly life is a "testing ground" that human beings must go through to determine which type of eternal life they will experience in the Hereafter. While in this world, human beings take an exam to enter the Afterlife. In every case, the correct answer is to pursue Allah’s good pleasure.

In reality, life is no more than a transitory testing and training period created by Allah for each person. Throughout this period, human beings are responsible for pondering this reality in order to know our Lord, obey His commands, and seek His good pleasure. They are also responsible for showing grace, patience, and moral strength in the face of everything that happens to them while in this world. The great secret within this test is known only to believers: to be content in knowing that everything is a test from our Lord and to meet every eventuality with joyful enthusiasm.

(Harun Yahya)

Permintaan Hati

Posted on May 16, 2008 by inne78.
Categories: Belief & Enlightenment.

Wahai Tuhan yang menancapkan untukku tanaman zikir, mengalirkan sungai-sungai munajat, membuatkanku hari-hari raya dalam pertemuan manusia, dan mendirikan untukku di kalangan mereka pasar ketakwaan.

Aku datang dengan sengaja kepadaMu dengan hati yang penuh harap kepadaMu dan dengan lisan yang basah karena berdoa kepadaMu.

Ya Tuhanku, bagaimana aku melupakanMu, sedang aku tidak punya tuhan selain Engkau.
Ya Tuhanku, bagaimana aku berlari dariMu, sedang aku mengetahui bahwa tiada jalan menuju surgaMu, kecuali karena kemurahanMu; dan tiada jalan yang terputus dariMu, kecuali karena keadilanMu.

Ya Tuhanku, aku mengadu kepadaMu tentang dosa-dosa yang tidak dapat kuingkari. Aku memohon Engkau mengampuninya sebelum hisab-Mu padaku di padang Mahsyar. Dan, aku memohon Engkau mengampuniku di padang Mahsyar, sebagaimana Engkau menutupinya ketika di dunia
.

Ya Tuhanku, aku tidak akan mengatakan : "aku tidak akan mengulangi dosaku lagi", karena aku mengetahui diriku mudah melanggar janji. Sebaliknya, aku akan mengatakan : "aku tidak akan mengulanginya lagi" dengan harapan semoga aku mati sebelum mengulanginya.

Wahai Tuhanku Yang Maha Pemurah dan paling diharapkan kemurahanNya, aku mengadu kepadaMu tentang keinginan-keinginanku. Aku mohon berikanlah apa yang aku inginkan. Akan tetapi, jika Engkau tidak memberiku apa yang aku inginkan, sabarkanlah diriku terhadap apa yang Engkau kehendaki.

Wahai Tuhanku, aku mengadu kepadaMu tentang sakit dan sedihku.
Aku mohon sembuhkanlah segala sakitku dan singkirkanlah semua kesedihanku. Jika tidak, Engkau maha adil, cukuplah kasih sayangMu sebagai pengganti dan penghibur untukku.

Ya Allah, sesungguhnya aku tidak akan pernah putus harapan dari perhatian dan rahmatMu sepanjang hidup dan sesudah matiku. KepadaMu lah aku bersandar dan menggantungkan segalanya.

Mengenal Autisme

Posted on April 22, 2008 by inne78.
Categories: Smart Parents.

Autis. Akhir-akhir ini istilah ini makin sering kita dengar ya. Sebenarnya apa sih autis itu?.

Autisme merupakan gangguan proses perkembangan yang terjadi dalam 3 tahun pertama kehidupan seorang anak. Autisme bukan merupakan gangguan mental, dan bukan disebabkan oleh trauma. Autisme merupakan gangguan neoro-biologi kompleks. Hampir semua struktur otak penyandang autis memiliki kelainan, seperti pada otak kecil, lapisan luar otak besar, sistem limbik (pengatur emosi), penghubung otak kiri-kanan, dan batang otak.
Kelainan inilah yang menyebabkan gangguan pada perkembangan sosial, perilaku, dan bahasa bicara penyandangnya.

RAGAM GEJALA
Autisme merupakan gangguan dengan spektrum luas, dari yang ringan hingga berat. Beberapa hal yang layak dicermati sebagai tanda awal autisme adalah :
1. Gangguan bahasa, contoh :
- Bila diajak bicara atau diperintah melakukan sesuatu, ia diam dan tak acuh saja.
- Perkembangan kemampuan bahasa cenderung lambat. Misalnya, hanya mengoceh dalam bahasa ‘planet’ atau membeo. Jika ditanya, akan mengulangi pertanyaan tersebut berulang-ulang.
- Kehilangan kemampuan mengucapkan kata-kata yang semula sudah ia kuasai.
- Tidak mampu mengekspresikan diri secara verbal maupun non verbal.
2. Gangguan perilaku, contoh :
- Memiliki rentang perhatian yang terlalu panjang. Misalnya, menderetkan mainannya lalu merusakkannya kembali. Ini dilakukannya berkali-kali tanpa henti. Ada juga yang anteng berjam-jam mengamati kipas yang sedang berputar.
- Suka menstimulasi diri sendiri seperti handflapping, berjalan jinjit dan sebagainya.
- Hiperaktif
3. Gangguan sosial, contoh :
- Tidak ada peer relationship, tidak tertarik untuk bermain bersama anak sebayanya.
- Ia terlihat asyik dalam dunianya sendiri, tidak tertarik dengan lingkungannya.
- Interaksi dengan ayah, ibu dan orang lain terasa dangkal dan terbatas hanya pada saat ia membutuhkan sesuatu saja.
4. Bermasalah dalam kekebalan tubuh, sering sakit dan mengalami alergi.

Pemeriksaan pada anak yang masih kecil bukan hal mudah. Gejala dan spektrum yang ditunjukkannya pun seringkali inkonsisten dan sangat luas. Oleh sebab itu, jangan heran jika dokter saraf anak pun membutuhkan berbagai pemeriksaan dan pengamatan sebelum akhirnya menyimpulkan.

INTERVENSI DINI
"Kesembuhan" dapat tercapai bila dilakukan intervensi sedini mungkin dan secara intensif. Intervensi yang dapat dilakukan meliputi beberapa aspek dan cara yang bersifat individual. Salah satunya adalah teknik ABA (Applied Behavior Analysis) yang dikenal sebagai metode Lovaas. Prinsip pelatihannya adalah konsep tiru. Misalnya, anak diajari gerakan mengacungkan jempol, meniru suara, suku kata dan sebagainya. Selain masalah reward (pujian, pelukan, makanan dan sebagainya) pada anak, teknik ini juga menekankan konsistensi.

Para ahli sepakat, bahwa semakin muda usia atau sebelum umur 3 tahun, hasil dari intervensi semakin baik. Oleh sebab itu, segera setelah diagnosis dibuat, lakukan intervensi.

PERAN ORANGTUA DAN KELUARGA
Selain terapi dengan teknik ABA, ada juga terapi lain yang perlu dilakukan untuk mendukungnya. Seperti terapi obat, terapi diit, terapi wicara, terapi perilaku, dan lainnya yang disesuaikan kebutuhan anak.

Hal lainnya yang dapat dilakukan untuk mendukung anak :
- Sebaiknya perlakukan anak sesuai dengan usianya.
- Penanganan dilakukan secara serempak dan serentak oleh setiap orang yang terlibat dalam kehidupan anak. Misal, anak menjalani terapi perilaku di sebuah tempat terapi, hal yang sama juga harus diterapkan di rumah. Jangan serahkan terapi pada dokter atau terapis semata.
- Jika anak tidak merespon secara verbal, lakukan kontak dengan cara lain. Misalnya, melalui bahasa tubuh, gerakan tangan, ekspresi wajah, dan kartu bergambar.
- Ajarkan beberapa keterampilan sehari-hari yang penting, seperti toileting, berpakaian sendiri, dan cara makan yang baik.
- Bekerjasama dengan para ahli seperti guru, dokter, psikolog, dan para terapis dalam merancang dan menjalankan program terapi yang tepat.
- Fokus penanganan sebaiknya tetap realistis sesuai dengan kehidupan anak sehari-hari, dan tidak melulu menyangkut akademis, seperti : kemampuan membawa diri di lingkungan, kemampuan menahan amarah dan mengatasi kekecewaan, kemampuan adaptasi, kemampuan menyelesaikan masalah, dan kemampuan komunikasi.
- Bergabunglah dengan komunitas sesama orangtua anak berkebutuhan khusus lainnya.
- Yakinlah bahwa Allah tidak memberikan cobaan melebihi kemampuan hambaNya. Sadarilah bahwa ada oranglain yang diuji dengan hal-hal yang lebih berat.
- Kegagalan adalah pelajaran yang berharga dan merupakan bagian dari proses.

Sumber :
- Dyah Puspita, Untaian Duka Taburan Mutiara, Qanita
- Nakita, Merawat Anak Sakit, PT Sarana Kinasih Satya Sejati
- www.anakspesial.com

Dari Lubuk Hati Terdalam

Posted on March 13, 2008 by inne78.
Categories: Belief & Enlightenment.

” Ya Allah, hanya kepada-Mu aku mengadu lemahnya kekuatanku, sedikitnya usahaku, dan remehnya diriku di mata orang lain.
Wahai Tuhan Maha Pelimpah rahmat, Engkau adalah Tuhan orang-orang yang lemah, dan Engkau adalah Tuhanku.
Kepada siapakah Engkau serahkan diriku? Kepada orang jauh yang bermuka masam atau pada orang yang berlaku kejam padaku. Ataukah pada musuh yang menguasaiku.
Jika Engkau tidak murka padaku, aku tidak peduli dengan semua itu.
Akan tetapi, pemaafan-Mu lebih luas bagiku.
Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan memperbaiki urusan dunia dan akhirat, agar Engkau tidak menurunkan kepadaku murka-Mu atau aku tertimpa oleh kebencian-Mu.
Bagi-Mu segala puji sampai Engkau ridha; tiada daya untuk menghindar dari kedurhakaan; dan tiada kekuatan untuk melakukan ketaatan; kecuali dengan pertolongan-Mu ”

Doa Rasulullah SAW

Me & Ceuceu

Posted on February 25, 2008 by inne78.
Categories: Private Notes.

FRAGMEN 1.

Ceuceu Jihan : "Ateu, ateu"

Ateu Neu : "Hemh..apa ceu?"

Ceuceu Jihan : "Ateu kalo ga pake kacamata cantik"

Ateu Neu : "Masa seh?"

Ceuceu Jihan : "Kalo pake kacamata, sedang-sedang aja"

Gubrak !!!
Yaa ..

FRAGMEN 2.

Ceuceu Jihan : "Ateu ateu"

Ateu Neu : "Hemm.."

Ceuceu Jihan : "Kok ateu sama ibu Jihan beda"

Ateu Neu : "Beda apanya?"

Ceuceu Jihan : "Ibu umur 29 anaknya dah 2, ateu kok belum?"

Gubrak !!!
Aku meringis.
"Neng..jalan hidup tiap orang teh beda-beda. Jadi.. doain ateu ya.
Married is not about age, but soon is better heheh"

FRAME 3

Ceuceu Jihan : "Ateu..sini deh"

Ateu Neu : "Apa ceu.."

Ceuceu Jihan : "Liat deh, di bawah mata ceuceu udah ada kerutannya"

Gubrak!!!
Ckakakakakakak.. ceuceu .. ceuceu .. ya iya lah masa ya iya dong, tiap orang juga di bawah matanya ada kerutannya..Kebanyakan nonton iklan Pond’s neh ceuceu.

FRAGMENT 4.

Ceuceu Jihan : "Ateu, ateu suka kue yang asin atau yang manis?"

Ateu Neu : "Yang asin. Kalo ceu?"

Ceuceu Jihan : "Yang asin juga"

Ateu Neu : "Eh ateu mo tanya. Kalo ateu punya dua kue, satu asin, satu manis; ateu mau kasih satu ke ceu, ceu mau ambil yang mana?"

Ceuceu Jihan : "Hemm..boleh dua-duanya?"

Ateu Neu : "Ga dong.."

Ceuceu Jihan : "Atau setengah-setengah? asin setengah, manis setengah"

(yeey .. pinter deh..)

Ateu Neu : "Ga boleh"

(setelah sekian detik yang rasanya lamaaa banget)

Ceuceu Jihan : "Asin aja deh"

Nah gitu dong .. konsisten, dan full commitment. Hahahahaha.

Cast : Ateu Neu is me. Ceuceu Jihan is my niece.