Mengenal Autisme

Posted on April 22, 2008 by inne78.
Categories: Smart Parents.

Autis. Akhir-akhir ini istilah ini makin sering kita dengar ya. Sebenarnya apa sih autis itu?.

Autisme merupakan gangguan proses perkembangan yang terjadi dalam 3 tahun pertama kehidupan seorang anak. Autisme bukan merupakan gangguan mental, dan bukan disebabkan oleh trauma. Autisme merupakan gangguan neoro-biologi kompleks. Hampir semua struktur otak penyandang autis memiliki kelainan, seperti pada otak kecil, lapisan luar otak besar, sistem limbik (pengatur emosi), penghubung otak kiri-kanan, dan batang otak.
Kelainan inilah yang menyebabkan gangguan pada perkembangan sosial, perilaku, dan bahasa bicara penyandangnya.

RAGAM GEJALA
Autisme merupakan gangguan dengan spektrum luas, dari yang ringan hingga berat. Beberapa hal yang layak dicermati sebagai tanda awal autisme adalah :
1. Gangguan bahasa, contoh :
- Bila diajak bicara atau diperintah melakukan sesuatu, ia diam dan tak acuh saja.
- Perkembangan kemampuan bahasa cenderung lambat. Misalnya, hanya mengoceh dalam bahasa ‘planet’ atau membeo. Jika ditanya, akan mengulangi pertanyaan tersebut berulang-ulang.
- Kehilangan kemampuan mengucapkan kata-kata yang semula sudah ia kuasai.
- Tidak mampu mengekspresikan diri secara verbal maupun non verbal.
2. Gangguan perilaku, contoh :
- Memiliki rentang perhatian yang terlalu panjang. Misalnya, menderetkan mainannya lalu merusakkannya kembali. Ini dilakukannya berkali-kali tanpa henti. Ada juga yang anteng berjam-jam mengamati kipas yang sedang berputar.
- Suka menstimulasi diri sendiri seperti handflapping, berjalan jinjit dan sebagainya.
- Hiperaktif
3. Gangguan sosial, contoh :
- Tidak ada peer relationship, tidak tertarik untuk bermain bersama anak sebayanya.
- Ia terlihat asyik dalam dunianya sendiri, tidak tertarik dengan lingkungannya.
- Interaksi dengan ayah, ibu dan orang lain terasa dangkal dan terbatas hanya pada saat ia membutuhkan sesuatu saja.
4. Bermasalah dalam kekebalan tubuh, sering sakit dan mengalami alergi.

Pemeriksaan pada anak yang masih kecil bukan hal mudah. Gejala dan spektrum yang ditunjukkannya pun seringkali inkonsisten dan sangat luas. Oleh sebab itu, jangan heran jika dokter saraf anak pun membutuhkan berbagai pemeriksaan dan pengamatan sebelum akhirnya menyimpulkan.

INTERVENSI DINI
"Kesembuhan" dapat tercapai bila dilakukan intervensi sedini mungkin dan secara intensif. Intervensi yang dapat dilakukan meliputi beberapa aspek dan cara yang bersifat individual. Salah satunya adalah teknik ABA (Applied Behavior Analysis) yang dikenal sebagai metode Lovaas. Prinsip pelatihannya adalah konsep tiru. Misalnya, anak diajari gerakan mengacungkan jempol, meniru suara, suku kata dan sebagainya. Selain masalah reward (pujian, pelukan, makanan dan sebagainya) pada anak, teknik ini juga menekankan konsistensi.

Para ahli sepakat, bahwa semakin muda usia atau sebelum umur 3 tahun, hasil dari intervensi semakin baik. Oleh sebab itu, segera setelah diagnosis dibuat, lakukan intervensi.

PERAN ORANGTUA DAN KELUARGA
Selain terapi dengan teknik ABA, ada juga terapi lain yang perlu dilakukan untuk mendukungnya. Seperti terapi obat, terapi diit, terapi wicara, terapi perilaku, dan lainnya yang disesuaikan kebutuhan anak.

Hal lainnya yang dapat dilakukan untuk mendukung anak :
- Sebaiknya perlakukan anak sesuai dengan usianya.
- Penanganan dilakukan secara serempak dan serentak oleh setiap orang yang terlibat dalam kehidupan anak. Misal, anak menjalani terapi perilaku di sebuah tempat terapi, hal yang sama juga harus diterapkan di rumah. Jangan serahkan terapi pada dokter atau terapis semata.
- Jika anak tidak merespon secara verbal, lakukan kontak dengan cara lain. Misalnya, melalui bahasa tubuh, gerakan tangan, ekspresi wajah, dan kartu bergambar.
- Ajarkan beberapa keterampilan sehari-hari yang penting, seperti toileting, berpakaian sendiri, dan cara makan yang baik.
- Bekerjasama dengan para ahli seperti guru, dokter, psikolog, dan para terapis dalam merancang dan menjalankan program terapi yang tepat.
- Fokus penanganan sebaiknya tetap realistis sesuai dengan kehidupan anak sehari-hari, dan tidak melulu menyangkut akademis, seperti : kemampuan membawa diri di lingkungan, kemampuan menahan amarah dan mengatasi kekecewaan, kemampuan adaptasi, kemampuan menyelesaikan masalah, dan kemampuan komunikasi.
- Bergabunglah dengan komunitas sesama orangtua anak berkebutuhan khusus lainnya.
- Yakinlah bahwa Allah tidak memberikan cobaan melebihi kemampuan hambaNya. Sadarilah bahwa ada oranglain yang diuji dengan hal-hal yang lebih berat.
- Kegagalan adalah pelajaran yang berharga dan merupakan bagian dari proses.

Sumber :
- Dyah Puspita, Untaian Duka Taburan Mutiara, Qanita
- Nakita, Merawat Anak Sakit, PT Sarana Kinasih Satya Sejati
- www.anakspesial.com

no comments yet.



Leave a comment

Names and email addresses are required (email addresses aren't displayed), url's are optional.

Comments may contain the following xhtml tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>