Dewasa?
Sahabatku, kedewasaan seseorang tidak bisa diukur dengan usia, adakalanya seseorang yang sebenarnya sudah dewasa tetapi perilakunya kekanak-kanakan. Sementara, tidak sedikit orang yang usianya masih muda tetapi mampu bersikap dewasa.
Sayangnya kedewasaan banyak ditafsirkan salah oleh banyak orang. Jika melihat orang-orang yang dalam kehidupannya tampak diam dan serius spontan dikatakan dewasa, sedangkan jika melihat orang yang dalam kehidupannya selalu bermain, gembira dan bercanda, spontan dikatakan tidak dewasa.
Jika anda terlanjur berkesimpulan demikian, maka ubahlah, karena yang menjadi ukuran kedewasaan adalah kematangan spiritual. Kedewasaan bisa dilihat bagaimana seseorang mengambil sebuah keputusan. Sebagai contoh, suatu ketika Khalifah Umar bin Khattab RA menuju Mekah. Saat itu seorang penggembala kambing turun dari bukit dan mendekati rombongan Khalifah Umar. Umar RA berkata padanya, “Hai Fulan, juallah padaku satu ekor di antara kambing-kambing yang kamu bawa itu”. Penggembala itu berkata, “Saya hanyalah budak, dan kambing-kambing ini milik tuan saya”. Lalu Umar RA berkata padanya, “Katakan saja pada tuanmu bahwa kambing itu dimakan serigala”. Penggembala itu spontan menjawab, “Lalu di mana Allah?”. Maka terkesimaklah Umar RA sambil meneteskan air mata. Seketika itu juga, beliau pergi bersama budak itu menemui tuannya. Kemudian budak itu dimerdekakan oleh Umar RA dari tuannya. Umar RA berkata pada budak itu, ”Kalimatmu telah memerdekakanmu di dunia ini dan aku mengharapkan semoga kalimat ini memerdekakanmu di akhirat nanti”.
Dikutip dari :
Imam Maliki Ralibi, Fun Teaching, Duha Khazanah, 2008.