Takdir VS Usaha
TANYA KENAPAAAAAA?
Sekelompok murid sedang bertanya tentang takdir pada gurunya. Sang guru mengatakan “Kemampuan setiap orang itu terbatas dan kapasitasnya sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Oleh karena itu hasil akhir dari segala yang kita kerjakan ga akan berbeda dengan apa yang udah ditetapkan Allah”.
Ucapan guru itu agaknya membuat murid-muridnya penasaran. “Kalo begitu buat apa kita usaha, Bu? kan hasilnya udah ditetapkan” sahut seorang murid dengan nada apatis. Bu guru balik bertanya, “Pernah ga kamu amati orang yang sedang bekerja?”. “Ya” jawab sang murid. “Apakah hasil kerja orang yang rajin sama dengan orang yang malas? Siapa yang biasanya memperoleh kesuksesan, yang rajin atau yang malas?”, spontan murid itu menjawab “Beda, Bu. Orang yang rajin biasanya lebih sukses”. “Nah, itu dia. Hasil akhir yang diperoleh seseorang itu sesuai dengan usahanya. Itu yang disebut takdir’’.
Analogi lain tentang takdir Allah adalah seperti seorang guru yang mengetahui persis kemampuan setiap muridnya. Menjelang ujian, sang guru memperkirakan kemungkinan (karena manusia, maka cuma kemungkinan) nilai yang didapat setiap muridnya; ada murid yang mendapat nilai 85, ada yang 63, ada yang 14, dan semacamnya. Di bagian atas catatan ‘prakiraan’ itu tercantum tanggal pengumuman hasil ujian, misalnya Senin 12 Juni 2009. Pada Senin 12 Juni 2009, hasil ujian diumumkan, ternyata ga ada satupun prakiraan guru yang meleset. Lalu, dalam hal ini, apakah seorang murid yang memperoleh nilai kecil boleh memprotes gurunya “Ni gara-gara prakiraan Ibu sih!”??. Ga kan!. Hasil akhir tersebut meskipun sudah diperkirakan gurunya, tetap ditentukan oleh usaha belajar si murid. Hasil usaha manusia meskipun sudah diketahui oleh Allah, tetap merupakan akibat dari usaha manusia itu sendiri. Wilayah manusia adalah wilayah usaha. Ada wilayah lain, di mana ga seorang pun tahu apa yang bakal terjadi, di sana lah manusia wajib tawakal.
Manusia adalah mahluk Allah. Usaha yang dilakukannya harus sesuai dengan juklak (petunjuk pelaksanaan) dari Allah. Mungkin saja suatu hasil usaha dianggap baik menurut ukuran manusia, namun di mata Allah ga mendapat nilai apa–apa, karena cara kerjanya ga sesuai juklak. Contohnya, saat ulangan seorang murid mencontek, lalu ia memperoleh nilai bagus. Dia mungkin memperoleh penghargaan baik dari orangtua, guru dan teman-temannya, tapi dia gagal mendapat nilai baik dari Allah. Mencontek bukanlah perbuatan yang sesuai dengan juklakNya, sehingga sebesar apapun nilai yang diperoleh dengan mencontek, tidak akan mendapat nilai dariNya. Ada dua kriteria utama yang harus dipenuhi agar semua usaha kita mendapat nilai di mataNya, 1. ikhlas (bermotivasi karena Allah semata), 2. sesuai dengan juklakNya.
Manusia diberiNya kemerdekaan penuh dalam berusaha, mengambil keputusan dan sebagainya. Tapi, pilihan apapun yang diambilnya, pasti ada dalam wilayah dan aturanNya. Jika seseorang rajin belajar kimia, pasti ia akan pandai dalam ilmu kimia. Inilah qadha (kepastian). Tingkat penguasaannya terhadap ilmu kimia, sebanding dengan usaha dia dalam mempelajarinya. Inilah qadha atau takdir (batasan).
Bagaimana jika manusia berbuat maksiat? Apakah itu takdir juga?. Apapun perbuatan manusia pasti terjadi dengan kemampuan dan kekuasaan yang diberikan Allah padanya. Namun jika seorang manusia memilih berbuat maksiat, bukan berarti Allah yang memerintahkan dia bermaksiat. Analoginya seperti ini, ada teman kita yang berzina, lalu kita beri nasihat, namun dia ga mau berubah. Dia tetap saja senang berzina. Apakah itu berarti kita yang menyuruh dia berzina? Tentu aja ga. Sebagai manusia dia kan diberikan akal dan hati oleh Allah, untuk memilih tindakan yang benar.
Bagaimana dengan bencana? Bencana bisa jadi bukan takdir Allah secara langsung. Keteraturan dan hukum-hukum alam merupakan hukum Allah yang pasti dan ga dapat diubah. Siapa saja yang melanggar atau ga mengikuti hukum Allah, pasti akan menuai bencana. Contohnya, pembalakan hutan. Jika saja manusia konsisten menjaga hutan, bumi tidak akan tandus, dan tidak akan timbul pemanasan global, banjir, longsor, sebagainya. Itu adalah hukum Allah. Bagaimana dengan gempa atau tsunami? itu takdir Allah juga. Bencana seperti gempa atau tsunami memang sulit diprediksi; namun Allah sudah mengingatkan manusia untuk terus mengenali alam dan gejala-gejalanya. Selanjutnya, manusia wajib berusaha memperkecil resiko, misalnya dengan membuat sistem penanganan bencana yang baik.
Kalau kita sakit? Itu takdir juga. Banyak orang menuduh mikroba atau virus sebagai biang penyakit. Bahkan ada juga yang menganggap Allah menzhalimi manusia dengan membuat aneka macam penyakit. Memang setiap penyakit diciptakan oleh Allah, namun penciptaannya ga secara langsung, hanya potensi-potensinya. Misalnya, kurang olahraga dan merokok, adalah potensi penyakit radang paru-paru. Contoh lainnya, perilaku seks bebas adalah faktor utama penyebaran penyakit AIDS. Kalo ga mau kena penyakit ini, ya jangan dekati zina dong.
Sebuah kompilasi dari
1.A. Khoiron Mustafiet, Takdir 13 Skala Richter, QultumMedia, 2005
2.Hamim tohari dan Boy Jauh Hari, Al-Qalam, 5 Januari 1996
3.Musyaffa Lc, Ummi No. 3/XVIII Juli 2006