You are looking at posts that were written in the month of June in the year 2007.
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Jul » | ||||||
| 1 | 2 | 3 | ||||
| 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 |
| 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 |
| 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 |
| 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | |
Pernahkah kita berpikir bahwa kita sering memberi nilai kepada sesuatu karena tampilan terkininya, bukan karena asal-usulnya?. Contohnya penilaian kita kepada nasi dan beras.
Kita cenderung lebih menghargai nasi daripada beras karena nasi bisa langsung dimakan. Padahal jika kita runut asal-usulnya, nasi bukanlah apa-apa, jika beras tidak rela menjalani proses menjadi nasi. Dan jika kita runut lagi, beras juga bukan apa-apa, sebab ia adalah hasil dari proses tanam dan tumbuh selama berbulan-bulan dari akar, batang dan daun padi.
Begitu juga hidup kita. Kita sering menilai seseorang karena tampilan terkininya yang cantik, sehat, mapan, pintar, atau soleh, karena memang sosok itu yang berhubungan langsung dengan kita. Padahal jika kita runut asal-usulnya, manusia (baligh) adalah hasil dari proses panjang dan rumit dari masa janin, balita hingga kanak-kanak.
Kenyataan inilah yang seharusnya membuat segala sesuatu dinilai berharga, bermartabat dan mulia. Seorang anak jalanan yang tergolek di trotoar, adalah mahluk berharga yang tidak mungkin dicari gantinya jika kita renungkan bagaimana proses asal-usulnya. Sepotong roti yang kita buang karena kita kekenyangan, adalah benda yang berharga karena ia telah melewati proses yang panjang hingga menjadi roti. Segelas air yang kita buang adalah benda berharga jika kita memikirkan bagaimana ia menjalani proses hingga hadir di hadapan kita.
Nah, tak ada sesuatu pun yang tak berharga dari kehidupan jika kita mau sejenak saja memikirkan proses asal-usulnya.
(IYUS in Annida)
Perpisahan adalah salah satu ‘prosedur’ hidup manusia, yang fungsinya untuk mengukur pertumbuhan dan kematangan manusia. Itulah sebabnya anak manusia pada saatnya harus terpisah dari rahim ibunya.
Kelahiran adalah bentuk perpisahan alami pertama manusia. Anak manusia harus berpisah dengan ‘kantong tidur’ ajaib yang bernama rahim, sebagai konsekuensi bagi pertumbuhan dan kematangannya. Setelah berbulan-bulan dinanti, kelahirannya adalah hal yang sangat membahagiakan bagi sang ibu dan orang-orang di sekitarnya.
Kelahiran mengajarkan bahwa perpisahan bisa jadi hal yang membahagiakan. Seseorang bisa saja mengaku paling bahagia saat menjalani masa sekolah, tetapi tidak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan saat dia lulus. Perpisahan dalam konteks ini mengajarkan bahwa kebahagiaan di masa sekolah sudah cukup waktunya, karena dia bisa jadi sangat tidak bahagia jika tidak lulus, dan kini saatnya dia berbahagia di tempat lain.
Pernikahan adalah prosedur perpisahan lainnya. Cobalah cari alasan untuk merasa paling bahagia dengan hidup sendiri. Setiap manusia akan menemukan bahwa hidup bersama orang yang dicintai dalam pernikahan adalah hal yang sangat membahagiakan. Ini karena pernikahan, seperti halnya kelahiran, mengindikasikan adanya pertumbuhan dan kematangan dalam diri seseorang. Dengan menikah, seseorang ‘dipaksa’ berpisah dari orangtua dan menjadi orangtua bagi generasi berikutnya. Kebahagiaannya di masa lajang sudah cukup waktunya, karena itu bisa jadi hal paling tidak membahagiakan jika tidak juga diakhiri.
(IYUS in Annida)
Jika kamu adalah seorang pelancong, dan kamu ingin mencoba surga; pergilah ke Bali. Singgahlah di Hotel Four Season di Jimbaran, yang tak pernah sepi meski mematok tarif 10-50 juta semalam. Jika itu belum cukup, cobalah hotel Begawan Giri di Ubud. Kamu bisa dapatkan kamar yang dirancang sempurna ‘menyerupai surga’ dan layanan paling ekslusif, dengan tarif ‘hanya’ 60-120 juta semalam.
Apa yang bisa kita petik dari hal di atas? Yang paling nyata, adalah kesia-siaan manusia dalam mengejar kenikmatan, kehormatan, dan keagungan sesaat; lewat rekaan surga palsu buatan manusia. Allah memberi pelajaran terang lewat kontradiksi ini; bahwa, betapa mahalnya nilai surga jika harus dinominalkan dengan materi. Sehingga, adalah wajar jika imbalan surga di akhirat bagi orang-orang beriman -surga abadi yang entah berjuta kali lipat indahnya dari surga palsu buatan manusia- harus ditebus dengan keikhlasan, kesabaran, keletihan dalam berjuang menegakkan iman, SEUMUR hidup …
(Joni Ariadinata in Annida)
Fitrah manusia adalah “ciptaan sempurna”. Namun jangan kejar kesempurnaan, karena tidak ada ukuran kesempurnaan yang berlaku universal. Sempurna buat si A belum tentu buat si B. HANYA 4JJI yang MAHA TAHU tentang KESEMPURNAAN itu.
Jadi, lakukan saja yang terbaik dan hasilnya ikhlaskan pada 4JJI. Biarkan prosesnya berjalan, syukuri dan nikmati. Semua kejadian sudah sempurna seperti apa adanya.
(Erbe Sentanu)
Mawar Pertama : Tuhanmu mengampuni orang yang memohon ampun, akan memberi ampun kepada yang minta, dan menerima yang kembali.
Mawar Kedua : optimislah, karena sesungguhnya Allah bersamamu, para malaikat memohonkan ampunan untukmu, dan surga telah menunggumu.
Mawar Ketiga : jangan berpikir di dunia ini ada orang yang memiliki kebahagiaan sempurna, karena tak seorangpun bisa mendapatkan semua yang ia inginkan.
Mawar Keempat : hapuslah air matamu dengan berbaik sangka pada Allah. Usirlah segala duka dengan mengingat semua nikmat yang telah dilimpahkan padamu.
Mawar Kelima : jadilah seperti pohon kurma; tinggi cita-citanya, kebal dari penyakit, dan bila dilempar batu, ia membalas dengan menjatuhkan buahnya.
(Aidh al-Qarni)
Ya … Untuk kata-kata baikmu yang membangun persahabatan dan menjauhkan kedengkian.
Ya … Untuk bacaan yang baik, telaah yang bermanfaat, bersama dengan buku yang baik dan mengandung pelajaran.
Ya … Untuk senyum indahmu yang menerbitkan cinta dan kasih sayang.
Ya … Untuk sedekah yang membahagiakan si miskin, menyenangkan yang fakir, dan mengenyangkan perut yang lapar.
Ya … Untuk bergaul dengan mereka yang takut pada Allah dan menghormati agama Allah.
Ya … Untuk berbuat baik pada orangtua, menyambung silaturahim, menghormati tetangga, dan menyantuni anak yatim.
Ya … Untuk memperbanyak doa dan meluruskan tobat.
(Aidh al-Qarni)
Seorang perempuan yang ditinggal wafat suaminya, meradang dan menghujat padaNya : “Ambillah anakku saja!”, ALLAH Sang Pencipta berfirman : “Hambaku! AKU lebih berhak atasnya daripada selain AKU. Suami adalah pinjaman, anak adalah pinjaman, saudara adalah pinjaman, ayah adalah pinjaman, istri adalah pinjaman. Harta dan semua di dunia adalah pinjaman. Dan pinjaman suatu saat pasti dikembalikan.”
(Aidh al-Qarni)
Hari yang paling indah adalah hari ketika aku menguasai diriku dan keluar dari ujian keraguan apakah aku bisa atau tidak.
Hari yang paling indah adalah hari ketika aku mampu menguasai nafsu dan seleraku.
Hari yang paling indah adalah ketika aku ragu antara pujian orang padaku, dan kebaikan yang tak dipuji oleh seorangpun, bahkan tidak ada yang mengetahuinya. Lalu aku tinggalkan pujian di belakangku dan aku rela dengan perbuatan yang tidak diketahui oranglain.
Hari yang paling indah adalah ketika dompetku penuh uang tapi hatiku hampa, kemudian aku memilih tidak punya apa-apa daripada hatiku hampa.
Alhamdulillah.
(Aidh alQarni)
Selamat datang, saudaraku.. Engkau yang bekerja, bersyukur, dan berdoa. Engkau yang selalu belajar dan menelaah. Engkau yang bersabar dan bertobat. Engkau yang menjaga kehormatan & keteguhan hati.
Selamat datang, saudaraku.. Engkau yang menjadikan Muhammad SAW sebagai panutan. Engkau yang mendidik anak, dan mencetak laki-laki dan perempuan yang terhormat. Engkau yang takut padaNYA, dan menjauhi hal yang diharamkanNYA.
Selamat datang, saudaraku..
-Aidh alQarni-