Hitam? Siapa Takut!
Dalam iklan terbaru salah satu krim pemutih kulit, seorang gadis tak dilirik sama sekali oleh seorang cowok di stasiun kereta. Namun belakangan, si cowok mulai menegur dan memberi perhatian pada si gadis. Rupanya selama 3 minggu terakhir si gadis memakai krim yang diiklankan tersebut.
Apa yang salah dengan gadis dalam iklan di atas? tak ada, kecuali : ia berkulit gelap. Sebagian penonton mungkin tersenyum melihat iklan ini. Tapi ada juga yang merasa ‘gondok’. Bukan hanya mereka yang berkulit gelap, tetapi juga kelompok masyarakat yang sadar bahwa iklan tersebut berpotensi melecehkan mereka yang berkulit gelap.
Iklan produk pemutih sering memberi gambaran pada banyak orang (terutama perempuan) bahwa ‘kalau anda tidak berkulit putih, anda tidak akan dilirik lawan jenis’ atau ‘temukan pasangan anda dengan cara berkulit putih’. Iklan seperti ini cenderung mereduksi makna kata ‘percaya diri’. Segala potensi diri yang diberikan Tuhan cenderung dilupakan, karena rasa percaya diri dipersepsikan langsung dengan perlunya memiliki kulit putih.
Lury, penulis buku tentang budaya konsumen, mengatakan bahwa media massa modern banyak menawarkan gaya hidup mengenai cara-cara peningkatan dan ekspresi diri. Nilai yang ditawarkan adalah bahwa ada masalah dalam tubuh kita, sehingga kita harus terus-menerus melakukan pengawasan, kontrol, dan koreksi terhadap diri kita. Rasa tidak nyaman terhadap tubuh sehingga tubuh perlu dikoreksi, antara lain dengan : krim anti kerut, krim pengencang payudara, pil pelangsing, operasi plastik, pemutih kulit, dan sebagainya. Mereka yang ‘pasrah’ dengan pesan media seperti ini akan mudah terpengaruh untuk mengaitkan kemampuan dirinya dengan kesempurnaan fisik.
Jika kita berbicara tentang warna kulit, maka kita membicarakan tentang pigmen melanin. Melanin berfungsi sebagai pelindung terhadap efek buruk sinar matahari. Mereka yang tinggal di daerah tropis seharusnya bersyukur diberikan warna kulit yang gelap. Orang kulit putih (ras kaukasia) yang cerah memiliki melanin yang lebih sedikit, dan karena itu juga mereka rentan terbakar sinar matahari dan terkena kanker kulit.
Penyebab kanker kulit sendiri macam-macam, antara lain karena terpajan zat kimia berbahaya (seperti arsen). Namun yang paling dominan adalah karena pajanan matahari yang mengandung sinar UV C. Cara menghindari pajanan sinar matahari ini ialah dengan menghindari pajanan langsung pukul 09.00-16.00 dan memakai tabir surya minimal SPF 15. Bagi muslimah, memakai baju yang menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan tangan, juga merupakan perlindungan, karena menurut penelitian di Australia bahan baju mempunyai SPF 15-60.
“Dialah Allah yang menciptakan dan menyempurnakan. Dan Dia menakdirkan (memberi kadar tertentu), kemudian memberi petunjuk” (QS 87 : 2-3)
(sebuah kompilasi kutipan, dari rubrik yang diasuh Dewi Inong, Sp.KK dan Nina M. Armando, di majalah UMMI)
more about warna kulit : http://hariadhi.wordpress.com/2007/12/24/diskriminasi-warna/