Pure Oxygen

Take a deep breath….. and smile…

Archive for July 17th, 2007


Hitam? Siapa Takut!

Dalam iklan terbaru salah satu krim pemutih kulit, seorang gadis tak dilirik sama sekali oleh seorang cowok di stasiun kereta. Namun belakangan, si cowok mulai menegur dan memberi perhatian pada si gadis. Rupanya selama 3 minggu terakhir si gadis memakai krim yang diiklankan tersebut.

Apa yang salah dengan gadis dalam iklan di atas? tak ada, kecuali : ia berkulit gelap. Sebagian penonton mungkin tersenyum melihat iklan ini. Tapi ada juga yang merasa ‘gondok’. Bukan hanya mereka yang berkulit gelap, tetapi juga kelompok masyarakat yang sadar bahwa iklan tersebut berpotensi melecehkan mereka yang berkulit gelap.

Iklan produk pemutih sering memberi gambaran pada banyak orang (terutama perempuan) bahwa ‘kalau anda tidak berkulit putih, anda tidak akan dilirik lawan jenis’ atau ‘temukan pasangan anda dengan cara berkulit putih’. Iklan seperti ini cenderung mereduksi makna kata ‘percaya diri’. Segala potensi diri yang diberikan Tuhan cenderung dilupakan, karena rasa percaya diri dipersepsikan langsung dengan perlunya memiliki kulit putih.

Lury, penulis buku tentang budaya konsumen, mengatakan bahwa media massa modern banyak menawarkan gaya hidup mengenai cara-cara peningkatan dan ekspresi diri. Nilai yang ditawarkan adalah bahwa ada masalah dalam tubuh kita, sehingga kita harus terus-menerus melakukan pengawasan, kontrol, dan koreksi terhadap diri kita. Rasa tidak nyaman terhadap tubuh sehingga tubuh perlu dikoreksi, antara lain dengan : krim anti kerut, krim pengencang payudara, pil pelangsing, operasi plastik, pemutih kulit, dan sebagainya. Mereka yang ‘pasrah’ dengan pesan media seperti ini akan mudah terpengaruh untuk mengaitkan kemampuan dirinya dengan kesempurnaan fisik.

Jika kita berbicara tentang warna kulit, maka kita membicarakan tentang pigmen melanin. Melanin berfungsi sebagai pelindung terhadap efek buruk sinar matahari. Mereka yang tinggal di daerah tropis seharusnya bersyukur diberikan warna kulit yang gelap. Orang kulit putih (ras kaukasia) yang cerah memiliki melanin yang lebih sedikit, dan karena itu juga mereka rentan terbakar sinar matahari dan terkena kanker kulit.

Penyebab kanker kulit sendiri macam-macam, antara lain karena terpajan zat kimia berbahaya (seperti arsen). Namun yang paling dominan adalah karena pajanan matahari yang mengandung sinar UV C. Cara menghindari pajanan sinar matahari ini ialah dengan menghindari pajanan langsung pukul 09.00-16.00 dan memakai tabir surya minimal SPF 15. Bagi muslimah, memakai baju yang menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan tangan, juga merupakan perlindungan, karena menurut penelitian di Australia bahan baju mempunyai SPF 15-60.

“Dialah Allah yang menciptakan dan menyempurnakan. Dan Dia menakdirkan (memberi kadar tertentu), kemudian memberi petunjuk” (QS 87 : 2-3)

(sebuah kompilasi kutipan, dari rubrik yang diasuh Dewi Inong, Sp.KK dan Nina M. Armando, di majalah UMMI)

more about warna kulit : http://hariadhi.wordpress.com/2007/12/24/diskriminasi-warna/

Ikat Dulu,Baru Tawakal

Rasulullah SAW pernah menasihati seseorang yang memasuki mesjid untuk shalat tanpa mengikatkan kudanya terlebih dahulu, melainkan sekedar berucap “Tawakal alallah saja lah”. Nasihat Rasulullah singkat saja “Ikat dulu…baru tawakal”.

Ulama terkemuka Sayyid Qutb menyatakan bahwa Islam ditegakkan tidak dengan ‘Kun Ilahiyah’ (kehendak Allah) semata melainkan harus dengan ikhtiar manusiawi dan prosedur yang cermat dan realistis. Kita ambil contoh perjalanan hijrah Rasulullah dari Mekah ke Madinah. Mengapa Allah tidak memudahkan perjalanan Beliau dengan cara spektakuler, misalnya menerbangkannya? seperti Allah menyelamatkan Nabi Musa AS dengan tongkatnya yang dapat membelah Laut Merah. Padahal Rasulullah SAW adalah orang yang paling dicintaiNya. Rupanya Allah berkehendak, Rasulullah mencontohkan pada kita bagaimana seharusnya berikhtiar, menempuh prosedur yang benar dulu, baru tawakal.

Tampaknya ada sebagian dari kita yang cenderung ke arah ‘ekstrim tawakal’. Sebutlah seorang berinisial A. Bagi A porsi waktu terbesarnya adalah untuk mendekatkan diri pada Allah. Setiap malam ia menegakkan shalat tahajud, dilanjutkan shalat subuh dan membaca Quran. Kemudian ia tidur lagi sebelum akhirnya bangun untuk shalat dhuha. Sebagai pedagang, ia baru keluar rumah saat matahari sudah cukup tinggi dan sambil berdagang ia menyelingi dengan shalat dhuhur dan dzikir sesudahnya. Tanpa mengecilkan nilai ibadahnya, secara obyektif porsi waktunya untuk mencari nafkah hanya sedikit. Penghasilannya benar-benar tidak memadai, sementara anak-anaknya terus bertambah. Mereka membutuhkan makanan bergizi dan susu untuk tumbuh dengan baik. Belum lagi jika sakit dan sekolah, dibutuhkan dana tidak sedikit. Akhirnya sang istri ikut kerja keras membanting tulang mengurus rumah tangga dan anak-anak (tanpa bantuan pembantu) sambil membawa anak-anak berdagang keliling ke rumah-rumah. Sang suami kerap menghibur istrinya dengan ayat Quran 63 : 3 “Dan Ia memberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka”. Bila anaknya sakit ia meminta istrinya untuk tidak segera panik ke klinik, melainkan mengutamakan berdoa.

A ini patut dikagumi tingkat ketawakalan dan pola pendekatannya pada Allah. Namun ia belum dapat dikatakan mencontoh jejak Rasul sepenuhnya, karena Rasul menempuh jalan ikhtiar selaku manusia secara realistis sebelum akhirnya bertawakal.

Secara kontras, ada pula sebagian dari kita yang cenderung ‘ekstrim realistis’, kosong ruhiyahnya dan minim ketawakalannya. Mereka berprinsip “time is money”; atau mengeluarkan ungkapan “orang hidup butuh uang”, “dikit-dikit akhirat”, “cari yang haram aja susah, apalagi yang halal”, dan sebagainya. Ada orang yang benaknya selalu dipenuhi target duniawi saja. Habis kuliah, trus kerja, punya kendaraan sendiri, beli rumah, nikah, punya anak, jalan-jalan dan kuliah ke luar negeri, bikin perusahaan sendiri, dan seterusnya. Orang seperti ini rentan terlepas dari Islam; lupa tujuan hidup, lupa meng-upgrade hubungan denganNya.

Dalam konteks lain hal serupa bisa terjadi. Seorang teman yang diuji belum juga memiliki anak mengeluh pada sahabatnya “Rasanya ikhtiar sudah habis-habisan dan sudah ke mana-mana. Tapi kok belum ada hasilnya?”. Rupanya teman kita ini khilaf bahwa mendapat anak adalah ‘kehendak Allah’ dan bukan semata usaha manusia saja.

Ada juga mereka yang mengalami ‘pelarutan furqon’; garis pembeda yang hak dan batil mulai memudar. Hal itu mula-mula karena ia bekerja di lingkungan kerja yang materialis dan bebas nilai. Akibatnya, ia semakin toleran bahkan ‘terwarnai’ pola hidup materialis dan bebas nilai. Seiring itu semangat keislaman dalam dirinya semakin memudar.

Namun syukurlah, kita masih melihat adanya orang-orang yang berusaha mengikuti jejak Rasul dan para sahabatnya. Mereka memiliki profesionalisme di bidangnya, namun tetap menjaga komitmennya dengan Islam. Mereka berdagang, bekerja, berusaha namun tidak lupa dengan dakwah. Mereka berikhtiar mencari rizki halal, pergi berobat bila anak sakit, berusaha memperoleh keturunan; namun mereka tidak lupa dengan kekuasaanNya. Mereka bertekad tuk sukses namun tetap mengikuti aturanNya.
Semoga kita termasuk ke dalamnya.

(UMMU SAMMY RAMADHAN in UMMI)