Pure Oxygen

Take a deep breath….. and smile…

Archive for the ‘Belief & Enlightenment’


A Reply for Jeng Bernadette

A Reply for Jeng Bernadette adalah sebuah rekaman dialog tentang jilbab antara aku (@) dan Jeng Bernadette (#). Semoga dialog ini memberi pencerahan buat siapapun yang menyimaknya.

# : “Gue pake jilbab? Duh gue belum siap, masih banyak sisi diri gue yang harus dibenerin”.

@ : Iya dong, namanya juga manusia Jeng, harus terus berkembang dan memperbaiki diri. Ga ada tuntutan, “Pakailah jilbab, setelah diri kamu sempurna “. Proses memperbaiki diri terus berjalan walaupun kita udah ber jilbab.

# : “Gue ga mau terpaksa berjilbab. Gue mau semua dari hati gue. Gue ga mau kayak oranglain yang pake jilbab karena terpaksa atau karena fashion”.

@ : Gue setuju!. Semua hal memang harus diawali dari hati. Cuma, hatinya yang kayak gimana? kalau hatinya penuh virus, yang jadi pegangan pasti nafsu. Ujung-ujungnya, menunda. Nah, kalau hatinya sehat, yang jadi pegangan pasti iman. Hati yang sehat pasti mau bersegera Jeng. Apalagi jilbab ini urusannya wajib lo, bukan pilihan. Sama kayak kewajiban memenuhi nafkah keluarga bagi kaum laki-laki. Kebayang kan kalo para suami/ bapak berujar “Gue ga mau terpaksa nyari nafkah. Nanti aja deh, kalo hati gue dah ikhlas, gue baru cari nafkah buat anak-bini gue”.

Yah, setiap orang memang punya ‘kebebasan’ memilih dalam segala hal. Tapi setiap pilihan pasti mengandung konsekuensi. Lu ‘bebas’ milih mau pake jilbab atau ga. Tapi inget lo…sesuatu yang wajib, kalo ga dilaksanakan, dapet apa coba…?.

# : “Eh kalo gue ga pake jilbab gapapa kan? yang penting hati gue kan bersih”.

@ : Yah Jeng, kalo logikanya begitu, sekalian aja kita ga shalat, yang penting hati kita bersih. Ya ga?.

# : “Gue liat banyak yang dah pake jilbab, tapi kelakuannya jelek banget. Gue juga liat ada yang pake jilbab ‘on-off’, alias kadang dipake, kadang ga. Ih sebel banget ngeliatnya! munafik!”.

@ : Duh Jeng, ga usah menilai orang lain deh. Yang penting kita berjilbab dan kita tunjukkan akhlak terbaik kita. Sibuk menilai orang lain, bikin kita pusing Jeng. Kita konsen aja ma diri kita sendiri dulu, kewajiban mana yang dah kita penuhi, mana yang belum.

# : “Banyak jilbaber yang ga fashionable banget, kumel and kesannya ga berpendidikan”.

@ : Jeng jeng, tiap orang tu berbeda. Banyak kok perempuan yang belum berjilbab, tapi ga fashionable. Entah karena ga ngerti, atau males ngurusin tetek-bengek fashion. Sebaliknya, banyak perempuan yang berjilbab, sangat fashionable. Buka deh mata Jeng.

Yang berjilbab kesannya ga berpendidikan?. Plis dong ah! Jeng gaul di mana sih selama ini?.

Banyak jilbaber yang meraih gelar magister atau doktoral, dari luar negeri pula!. Banyak jilbaber jadi dokter, peneliti, eksekutif di perusahaan, dosen, pengusaha muda dan sebagainya. Banyak jilbaber yang jadi ibu rumah tangga tapipunya kualifikasi tinggi; mereka punya visi and misi yang benar tentang sebuah keluarga. Jelas, butuh banyak ilmu dan intelejensi buat itu.

Tiap orang punya prioritas berbeda Jeng. Contohnya? Ga semua orang kalo punya uang sibuk ke mall, nyari sepatu and baju; atau ke kafe, makan and nonton live music. Ada yang lebih suka uangnya dipake buat nambah ilmu, beli buku atau ikut kursus; atau rihlah, silaturahim ma teman temannya, atau jalan-jalan ala wisata alam. Sekali lagi, prioritas setiap orang bisa sangat berbeda. Dan, kita ga berhak menilai orang dari pilihan prioritas mereka.

Allah pun ga menilai manusia dari bajunya Jeng. Kita sering menilai fisik and fashion paling penting, tapi coba deh pikirin, kita ‘pulang’ nanti pake apa? ga peduli Jeng putih atau item, punya baju bagus atau ga, Jeng bakal pake kain belacu yang warnanya putih. Dibelit trus dimasukin tanah, and siap-siap deh bermalam pertama di alam kubur.

“Makanya mumpung hidup, kita harus stylish” mungkin begitu kata Jeng.

Ah Jeng Jeng, ga ada yang ngelarang kok buat fashionable atau stylish. Tapi kewajiban dari Yang ngasih kita hidup, dipenuhin juga dong. Itu kok yang bakal ditanya nanti.

Nih, gue punya kisah. Seorang penggarap sawah diminta menggarap sebidang sawah. Kewajiban dia adalah menyetorkan beras di akhir tahun pada pemilik sawah. Sang penggarap mulai menanam padi tapi di tengah sawah dia menemukan banyak lele. Selanjutnya, dia malah sibuk memelihara lele, sementara tanaman padinya terbengkalai. Di akhir tahun ketika sang pemilik sawah menagih beras, dia tidak bisa menjawab. Dia sodorkan lele, tapi ditolak mentah-mentah oleh sang pemilik sawah.

“Buat gue yang bernilai tuh beras. Lele? ga level!. Makan aja sendiri. Eh denger ya, bukannya lu ga boleh melihara lele di sawah gue, tu bonus buat lu, tapi laksanakan dong kewajiban lu. Urus padinya, and setor berasnya ma gue. Sebenernya gue juga ga butuh beras lu. Gue cuma mau nguji, lu nurut ga mau gue, lu bisa dipercaya atau ga. Tadinya, kalo lu nurut and bisa dipercaya, gue mau kasih lu villa ma kebun gue. Gratis. Tapi karena lu begini, ga jadi deh.”.

# : “Citra jilbab sekarang jelek ya. Ini gara-gara kelakuan sebagian jilbaber yang jelek atau buka-tutup jilbab seenaknya. Ini PR buat jilbaber yang lain buat memperbaiki citra jilbab”.

@ : Yo wis.. Jeng pake jilbab dulu trus nti kita benerin bareng-bareng tu citra, gemane? ga rame klo Jeng ga ikutan.

Actually, jilbab adalah jilbab. Citra jilbab tidak akan pernah jelek. Kalo ada kelakuan jilbaber yang ga bener, ya citra perempuan itu yang jelek, bukan jilbabnya. Shalat, mencegah dari perbuatan mungkar. Kalo ada orang habis shalat malah berbuat mungkar, bukan kewajiban shalatnya yang cacat atau gagal, tapi orang itu yang gagal menerapkan nilai shalat dalam hidup sehari-hari. Ayo Jeng, jangan mau terjebak dalam kesalahan berpikir, be objective.

# : “Ribet ah pakenya. Lagian, panas!”.

@ : Bo! mau kepanasan di sini, atau nti di akhirat Jeng? katanya panas dunia cuma seperberapanya panas akhirat lo.. Ga pengen Jeng nanti dapet privillege, dapet tempat yang teduh di akhirat?.

Ribet? Aduh Jeng, katanya Jeng ini fashionable, kirain Jeng udah tau kalo sekarang banyak busana muslim yang ringkas.

# : “Eh gue banyak liat jilbaber jadi pengemis. Trus gue liat banyak artis yang setelah berjilbab jadi ga laku di sinetron. Jangan-jangan, pake jilbab malah bikin rezeki tersumbat ya?”.

@ : Oalah Jeng… ma orang kafir aja Allah ga pernah pelit bagi-bagi rezeki.

Atau, lihatlah keadaan Jeng sendiri, sekalipun ada kewajiban dariNya yang belum Jeng penuhi, tapi Allah selalu kasih semua yang Jeng butuhkan. Coba deh Jeng cek.

Jeng, sudahlah, kita tunjukkan saja kita patuh padaNya, dan mau diatur olehNya. Urusan rezeki biar Dia yang tangani.

# : “Ah males banget mikirin soal ini. Gue hidup buat nyari senang kok”.

@ : Ya sutralah Jeng, gue cuma menyampaikan apa gue harus sampaikan. Ini ayat lo…bukan karangan gue. So gue tinggal lapor aja sama Yang punya ayat, kalo gue dah sampaikan semuanya sama lu, dan sekarang urusannya tinggal antara lu langsung sama Dia. Jeng mau hidup senang? sama dong, siapa yang ga mau. Yah dah, gue doain hidup kita semua senang, ga cuma di dunia, tapi juga di akhirat, okeyyyy. Aamiin.

Sahabatku, dialog ini lahir atas dasar cinta, bukan kebencian. Aku menerima dirimu apa adanya, tapi aku sungguh berharap kita bisa berjalan bersama di jalanNya. Aku berharap kita semua kelak selamat, di hari pengadilan, di hadapanNya. Mulailah dengan jilbab, sahabatku… dan mari kita berjalan bersama tuk raih rahmatNya.

…..best friend forever, with love, in the Name of Allah…..

Takdir VS Usaha

TANYA KENAPAAAAAA?

Sekelompok murid sedang bertanya tentang takdir pada gurunya. Sang guru mengatakan “Kemampuan setiap orang itu terbatas dan kapasitasnya sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Oleh karena itu hasil akhir dari segala yang kita kerjakan ga akan berbeda dengan apa yang udah ditetapkan Allah”.

Ucapan guru itu agaknya membuat murid-muridnya penasaran. “Kalo begitu buat apa kita usaha, Bu? kan hasilnya udah ditetapkan” sahut seorang murid dengan nada apatis. Bu guru balik bertanya, “Pernah ga kamu amati orang yang sedang bekerja?”. “Ya” jawab sang murid. “Apakah hasil kerja orang yang rajin sama dengan orang yang malas? Siapa yang biasanya memperoleh kesuksesan, yang rajin atau yang malas?”, spontan murid itu menjawab “Beda, Bu. Orang yang rajin biasanya lebih sukses”. “Nah, itu dia. Hasil akhir yang diperoleh seseorang itu sesuai dengan usahanya. Itu yang disebut takdir’’.

Analogi lain tentang takdir Allah adalah seperti seorang guru yang mengetahui persis kemampuan setiap muridnya. Menjelang ujian, sang guru memperkirakan kemungkinan (karena manusia, maka cuma kemungkinan) nilai yang didapat setiap muridnya; ada murid yang mendapat nilai 85, ada yang 63, ada yang 14, dan semacamnya. Di bagian atas catatan ‘prakiraan’ itu tercantum tanggal pengumuman hasil ujian, misalnya Senin 12 Juni 2009. Pada Senin 12 Juni 2009, hasil ujian diumumkan, ternyata ga ada satupun prakiraan guru yang meleset. Lalu, dalam hal ini, apakah seorang murid yang memperoleh nilai kecil boleh memprotes gurunya “Ni gara-gara prakiraan Ibu sih!”??. Ga kan!. Hasil akhir tersebut meskipun sudah diperkirakan gurunya, tetap ditentukan oleh usaha belajar si murid. Hasil usaha manusia meskipun sudah diketahui oleh Allah, tetap merupakan akibat dari usaha manusia itu sendiri. Wilayah manusia adalah wilayah usaha. Ada wilayah lain, di mana ga seorang pun tahu apa yang bakal terjadi, di sana lah manusia wajib tawakal.

Manusia adalah mahluk Allah. Usaha yang dilakukannya harus sesuai dengan juklak (petunjuk pelaksanaan) dari Allah. Mungkin saja suatu hasil usaha dianggap baik menurut ukuran manusia, namun di mata Allah ga mendapat nilai apa–apa, karena cara kerjanya ga sesuai juklak. Contohnya, saat ulangan seorang murid mencontek, lalu ia memperoleh nilai bagus. Dia mungkin memperoleh penghargaan baik dari orangtua, guru dan teman-temannya, tapi dia gagal mendapat nilai baik dari Allah. Mencontek bukanlah perbuatan yang sesuai dengan juklakNya, sehingga sebesar apapun nilai yang diperoleh dengan mencontek, tidak akan mendapat nilai dariNya. Ada dua kriteria utama yang harus dipenuhi agar semua usaha kita mendapat nilai di mataNya, 1. ikhlas (bermotivasi karena Allah semata), 2. sesuai dengan juklakNya.

Manusia diberiNya kemerdekaan penuh dalam berusaha, mengambil keputusan dan sebagainya. Tapi, pilihan apapun yang diambilnya, pasti ada dalam wilayah dan aturanNya. Jika seseorang rajin belajar kimia, pasti ia akan pandai dalam ilmu kimia. Inilah qadha (kepastian). Tingkat penguasaannya terhadap ilmu kimia, sebanding dengan usaha dia dalam mempelajarinya. Inilah qadha atau takdir (batasan).

Bagaimana jika manusia berbuat maksiat? Apakah itu takdir juga?. Apapun perbuatan manusia pasti terjadi dengan kemampuan dan kekuasaan yang diberikan Allah padanya. Namun jika seorang manusia memilih berbuat maksiat, bukan berarti Allah yang memerintahkan dia bermaksiat. Analoginya seperti ini, ada teman kita yang berzina, lalu kita beri nasihat, namun dia ga mau berubah. Dia tetap saja senang berzina. Apakah itu berarti kita yang menyuruh dia berzina? Tentu aja ga. Sebagai manusia dia kan diberikan akal dan hati oleh Allah, untuk memilih tindakan yang benar.

Bagaimana dengan bencana? Bencana bisa jadi bukan takdir Allah secara langsung. Keteraturan dan hukum-hukum alam merupakan hukum Allah yang pasti dan ga dapat diubah. Siapa saja yang melanggar atau ga mengikuti hukum Allah, pasti akan menuai bencana. Contohnya, pembalakan hutan. Jika saja manusia konsisten menjaga hutan, bumi tidak akan tandus, dan tidak akan timbul pemanasan global, banjir, longsor, sebagainya. Itu adalah hukum Allah. Bagaimana dengan gempa atau tsunami? itu takdir Allah juga. Bencana seperti gempa atau tsunami memang sulit diprediksi; namun Allah sudah mengingatkan manusia untuk terus mengenali alam dan gejala-gejalanya. Selanjutnya, manusia wajib berusaha memperkecil resiko, misalnya dengan membuat sistem penanganan bencana yang baik.

Kalau kita sakit? Itu takdir juga. Banyak orang menuduh mikroba atau virus sebagai biang penyakit. Bahkan ada juga yang menganggap Allah menzhalimi manusia dengan membuat aneka macam penyakit. Memang setiap penyakit diciptakan oleh Allah, namun penciptaannya ga secara langsung, hanya potensi-potensinya. Misalnya, kurang olahraga dan merokok, adalah potensi penyakit radang paru-paru. Contoh lainnya, perilaku seks bebas adalah faktor utama penyebaran penyakit AIDS. Kalo ga mau kena penyakit ini, ya jangan dekati zina dong.

Sebuah kompilasi dari

1.A. Khoiron Mustafiet, Takdir 13 Skala Richter, QultumMedia, 2005

2.Hamim tohari dan Boy Jauh Hari, Al-Qalam, 5 Januari 1996

3.Musyaffa Lc, Ummi No. 3/XVIII Juli 2006

Dewasa?

Sahabatku, kedewasaan seseorang tidak bisa diukur dengan usia, adakalanya seseorang yang sebenarnya sudah dewasa tetapi perilakunya kekanak-kanakan. Sementara, tidak sedikit orang yang usianya masih muda tetapi mampu bersikap dewasa.

Sayangnya kedewasaan banyak ditafsirkan salah oleh banyak orang. Jika melihat orang-orang yang dalam kehidupannya tampak diam dan serius spontan dikatakan dewasa, sedangkan jika melihat orang yang dalam kehidupannya selalu bermain, gembira dan bercanda, spontan dikatakan tidak dewasa.

Jika anda terlanjur berkesimpulan demikian, maka ubahlah, karena yang menjadi ukuran kedewasaan adalah kematangan spiritual. Kedewasaan bisa dilihat bagaimana seseorang mengambil sebuah keputusan. Sebagai contoh, suatu ketika Khalifah Umar bin Khattab RA menuju Mekah. Saat itu seorang penggembala kambing turun dari bukit dan mendekati rombongan Khalifah Umar. Umar RA berkata padanya, “Hai Fulan, juallah padaku satu ekor di antara kambing-kambing yang kamu bawa itu”. Penggembala itu berkata, “Saya hanyalah budak, dan kambing-kambing ini milik tuan saya”. Lalu Umar RA berkata padanya, “Katakan saja pada tuanmu bahwa kambing itu dimakan serigala”. Penggembala itu spontan menjawab, “Lalu di mana Allah?”. Maka terkesimaklah Umar RA sambil meneteskan air mata. Seketika itu juga, beliau pergi bersama budak itu menemui tuannya. Kemudian budak itu dimerdekakan oleh Umar RA dari tuannya. Umar RA berkata pada budak itu, ”Kalimatmu telah memerdekakanmu di dunia ini dan aku mengharapkan semoga kalimat ini memerdekakanmu di akhirat nanti”.

Dikutip dari :

Imam Maliki Ralibi, Fun Teaching, Duha Khazanah, 2008.

A Testing Series

There must be something in your life that you have spent a lot of time and energy to get. Think of when you were in school, a time of frequent exams taken to prepare yourself for entrance into the university of your choice. Most young people regard such exams as turning points in their lives, because these exams will determine the shape of their future. They prepare for years for this event, give up their sleep and special activities, vacations, and other entertainment. Totally focused on entering their chosen university, they remain patient and determined to achieve this goal.

Now, consider the situation of those people whose most important aim is to own a nice house. In order to afford their dream home, they must first have the financial ability to buy it. Therefore, they will work day and night to get a good job and then move on to higher positions and larger salaries. After years of self-sacrifice, they will be able to buy or build their dream house.

As these examples show, people often have to work with great determination for years in order to overcome all of the obstacles standing between them and the object or goal to which they attach such value. Furthermore, if people pursue financial power, social respect, reputation, or a particular career, they will have to exert serious effort in the face of various setbacks and, as they say, "give something of themselves."

But here we must consider an important point: The above examples are about the transitory pleasures of this worldly life, all of which will disappear with the person�s death or may be lost suddenly due to some unexpected mishap. For example, a young person who spends years working assiduously to pass an exam may be killed in an accident before taking that exam. Or, a person�s effort and energy expended in the quest of buying a house may be disastrously undone in an instant through fire.

All of the pleasures sought after in this earthly life, no matter how hard we may work for them, are transitory. But there is also a real and genuine life of endless pleasure, one that will never be lost or consumed, one that human beings will enjoy for eternity: the life after death that believers work so hard in this life to attain. They regard this goal as being far more important than anything else and always keep it before their eyes.

So, this worldly life is a "testing ground" that human beings must go through to determine which type of eternal life they will experience in the Hereafter. While in this world, human beings take an exam to enter the Afterlife. In every case, the correct answer is to pursue Allah’s good pleasure.

In reality, life is no more than a transitory testing and training period created by Allah for each person. Throughout this period, human beings are responsible for pondering this reality in order to know our Lord, obey His commands, and seek His good pleasure. They are also responsible for showing grace, patience, and moral strength in the face of everything that happens to them while in this world. The great secret within this test is known only to believers: to be content in knowing that everything is a test from our Lord and to meet every eventuality with joyful enthusiasm.

(Harun Yahya)

Permintaan Hati

Wahai Tuhan yang menancapkan untukku tanaman zikir, mengalirkan sungai-sungai munajat, membuatkanku hari-hari raya dalam pertemuan manusia, dan mendirikan untukku di kalangan mereka pasar ketakwaan.

Aku datang dengan sengaja kepadaMu dengan hati yang penuh harap kepadaMu dan dengan lisan yang basah karena berdoa kepadaMu.

Ya Tuhanku, bagaimana aku melupakanMu, sedang aku tidak punya tuhan selain Engkau.
Ya Tuhanku, bagaimana aku berlari dariMu, sedang aku mengetahui bahwa tiada jalan menuju surgaMu, kecuali karena kemurahanMu; dan tiada jalan yang terputus dariMu, kecuali karena keadilanMu.

Ya Tuhanku, aku mengadu kepadaMu tentang dosa-dosa yang tidak dapat kuingkari. Aku memohon Engkau mengampuninya sebelum hisab-Mu padaku di padang Mahsyar. Dan, aku memohon Engkau mengampuniku di padang Mahsyar, sebagaimana Engkau menutupinya ketika di dunia
.

Ya Tuhanku, aku tidak akan mengatakan : "aku tidak akan mengulangi dosaku lagi", karena aku mengetahui diriku mudah melanggar janji. Sebaliknya, aku akan mengatakan : "aku tidak akan mengulanginya lagi" dengan harapan semoga aku mati sebelum mengulanginya.

Wahai Tuhanku Yang Maha Pemurah dan paling diharapkan kemurahanNya, aku mengadu kepadaMu tentang keinginan-keinginanku. Aku mohon berikanlah apa yang aku inginkan. Akan tetapi, jika Engkau tidak memberiku apa yang aku inginkan, sabarkanlah diriku terhadap apa yang Engkau kehendaki.

Wahai Tuhanku, aku mengadu kepadaMu tentang sakit dan sedihku.
Aku mohon sembuhkanlah segala sakitku dan singkirkanlah semua kesedihanku. Jika tidak, Engkau maha adil, cukuplah kasih sayangMu sebagai pengganti dan penghibur untukku.

Ya Allah, sesungguhnya aku tidak akan pernah putus harapan dari perhatian dan rahmatMu sepanjang hidup dan sesudah matiku. KepadaMu lah aku bersandar dan menggantungkan segalanya.

Dari Lubuk Hati Terdalam

” Ya Allah, hanya kepada-Mu aku mengadu lemahnya kekuatanku, sedikitnya usahaku, dan remehnya diriku di mata orang lain.
Wahai Tuhan Maha Pelimpah rahmat, Engkau adalah Tuhan orang-orang yang lemah, dan Engkau adalah Tuhanku.
Kepada siapakah Engkau serahkan diriku? Kepada orang jauh yang bermuka masam atau pada orang yang berlaku kejam padaku. Ataukah pada musuh yang menguasaiku.
Jika Engkau tidak murka padaku, aku tidak peduli dengan semua itu.
Akan tetapi, pemaafan-Mu lebih luas bagiku.
Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan memperbaiki urusan dunia dan akhirat, agar Engkau tidak menurunkan kepadaku murka-Mu atau aku tertimpa oleh kebencian-Mu.
Bagi-Mu segala puji sampai Engkau ridha; tiada daya untuk menghindar dari kedurhakaan; dan tiada kekuatan untuk melakukan ketaatan; kecuali dengan pertolongan-Mu ”

Doa Rasulullah SAW

Sang Penghibur

Bagian 1.
Tetap semangat :

Pertolongan itu sesuai kadar usaha yang dilakukan.

Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka berusaha mengubah keadaan mereka.

Allah membantu hamba-hambaNya yang mau berusaha.

Bagian 2.
Baik sangka :

Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan.

Allah akan menjadikan kelapangan setelah kesempitan.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Berpegang teguhlah padaNya, dan bersyukurlah.

Berdoalah padaNya, niscaya Allah perkenankan bagimu.

Janganlah kamu berputus asa dari rahmatNya.

Sesungguhnya Allah Maha Luas pengampunanNya.

“Aku seperti persepsi hambaKu padaKu”.

Siapa saja yang bertakwa pada Allah, akan dijadikan untuknya jalan keluar.

Sesungguhnya, pertolongan Allah itu dekat.

Sesungguhnya rahmatNya amat dekat pada orang-orang yang berbuat baik.

Jagalah Allah, maka Allah akan menjaganya.

Kasih sayangNya menutupi murkaNya.

Adalah hal yang mustahil, sebuah keadaan tidak dapat berubah.

Orang yang sangat sabar akan mendapatkan yang terbaik.

Allah tidak menjadikan untukmu suatu kesempitan dalam dienNya.

Ingatlah padaNya, niscaya Ia ingat pula padamu.

RahmatNya meliputi segala sesuatu.

Bagian 3.
Merendahkan diri :

Nikmat apapun yang kamu dapat, itu datang dariNya.

Siapakah yang memperkenankan doa apabila seseorang berdoa padaNya?.

Tidak ada daya dan upaya selain dengan ijin Allah.

Cukuplah Allah sebagai Penolong, dan Ia adalah sebaik-baik Pelindung.

Jawaban Terbaik

Pada suatu hari Anas RA menuturkan kisah ini :
Ketika masa iddah Zainab sudah berakhir Rasulullah SAW berkata pada Zaid : “Lamarkan aku padanya”. Lantas Zaid berangkat menemui Zainab dan mengatakan : “Wahai Zainab, Rasulullah SAW mengutusku untuk melamarmu untuk Beliau”. Zainab menjawab : “Aku tidak bisa berbuat apa-apa sebelum melakukan istikharah untuk mendapat petunjuk dari Tuhanku”.

Inilah jawaban Zainab ketika seorang utusan Allah, manusia paling utama melamarnya. Padahal wanita beriman mana yang tidak mau mendampingi Rasulullah SAW? dan Zainab, sosok wanita beriman, tentu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan berharga ini. Namun keimanannya telah menjadikan Zainab lebih mengutamakan pilihan Allah. Dia lebih mengutamakan istikharah untuk meminta jawaban yang terbaik dari Allah. Keteguhan hati Zainab inilah yang akhirnya menjadikan dia berkedudukan mulia, yaitu menjadi salah satu pendamping Rasulullah SAW.

Nah bagaimana dengan kita, Sist?. ;)
(BHRM, Mas Udik Abdullah, Pro-U Media)

Tidak Ada Libur

Adakalanya liburan dialami para murid sekolah, cuti diperoleh para pegawai kantor, dan istirahat diberikan di sela kegiatan. Tetapi, itu semua bukan dari Tuhan, sebab setiap muslim tidak punya libur, cuti dan istirahat sebelum kakinya melangkah ke surga.

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang padamu ajal” (QS Al-Hijr : 99)

Kita tidak punya waktu libur sepanjang siang dan malam, karena malaikat pencatat amal kebaikan senantiasa mencatat dan menulisnya; demikian pula malaikat pencatat amal keburukan senantiasa menghitung dan mencatatnya.

“Biarkan mereka di dunia ini makan dan bersenang-senang, dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui akibat perbuatan mereka” (QS Al-Hijr : 3)

Apakah kita yakin bahwa kita tidak akan mati, kecuali bila telah tua?.

“Maka apakah kamu mengira Kami menciptakan kamu secara main-main saja dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan pada Kami? …” (QS Al-Mukminuun : 115)

Transaksi yang Menguntungkan

Ini adalah transaksi yang tertulis, perjanjian yang dikuatkan, dagangan yang ditawarkan.

Pihak pembeli adalah Allah. Pihak penjual adalah orang-orang mukmin. Siapakah yang lebih menepati janjinya daripada Allah?. Dagangan yang ditawarkan adalah surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Barangsiapa yang masuk ke dalamnya, maka ia tidak akan tua, tidak akan menyesal, dan tidak akan pudar kemudaannya.

Harta benda, jiwa raga dan kehormatan, semuanya milik yang menciptakannya. Semuanya ada pada kita hanyalah sebagai pinjaman, maka pemilik sebenarnyalah yang lebih berhak dengannya.

Sebenarnya kita tidak memiliki apa pun. Semuanya adalah pemberian, hibah, dan anugerah dari Allah belaka. Dia yang menciptakan, yang memberi rizki, yang memaafkan, yang menutupi kesalahan, yang memiliki sifat lembut, dan yang memberi jaminan.

(Aidh al Qarni)