Pure Oxygen

Take a deep breath….. and smile…

Archive for the ‘Love & Relationship’


PRE WEDDING GIFT

ESENSI NIKAH

Manusia sering menyangka menikah merupakan kehendak dan hasil usaha manusia sendiri. Padahal Allah lah yang menciptakan rasa & dorongan itu pada manusia. Allah juga lah yang merancang pernikahan sebagai saluran yang bersih & halal untuk memperoleh ketenangan, kebahagiaan, kehormatan dan keturunan.

Menikah diperintahkanNya dalam Al Qur’an dan dicontoh rasulNya dalam sunnahnya; dengan demikian menikah adalah amanah dan juga ibadah. Ijab kabul pernikahan adalah pelimpahan amanat, bukan hanya pelimpahan amanat dari wali perempuan kepada pengantin lelaki, tapi juga pelimpahan amanat dari Allah kepada suami.

anda siap menikah?

Secara fisik, bila seseorang telah baligh maka ia telah siap menikah. Namun disamping kesiapan fisik, ada tiga faktor lain yang harus disiapkan yaitu :

Pertama, faktor kedewasaan rohani. Faktor ini adalah faktor utama karena menjamin kemampuan bersikap dan bertindak secara benar saat menghadapi berbagai tantangan. Seseorang harus memahami bahwa menikah bukan hanya menimbulkan berjuta keindahan namun juga berjuta tantangan. Bagi istri misalnya, dibutuhkan kesiapan dan keiklasan untuk memberikan sebagian otoritas atas dirinya pada suami. Sementara bagi laki-laki, dibutuhkan kesiapan untuk menjadi pemimpin dan pembimbing bagi seluruh anggota keluarganya.

Persiapan rohani bisa dilakukan dengan usaha untuk memurnikan ketaatan padaNya, menguatkan hubungan denganNya serta dengan mengikuti pembinaan akhlak.

Kedua, persiapan pemikiran. Persiapan pemikiran itu antara lain mengetahui niat dan tujuan menikah, mengetahui hukum-hukum sekitar pernikahan, apa saja hak dan kewajiban suami istri, bagaimana mengelola keuangan rumah tangga, bagaimana menyenangkan pasangan, bagaimana mendidik anak dan sebagainya. Persiapan pemikiran dapat dilakukan dengan cara membaca buku, menghadiri kajian tentang pernikahan, atau dengan banyak berdiskusi dengan orang-orang saleh yang telah menikah.

Ketiga, persiapan harta. Persiapan ini meliputi persiapan biaya pernikahan, juga tentang sumber penghasilan dan biaya hidup pasca menikah.

DENGAN NIAT APA ANDA MENIKAH?

Setiap perbuatan tergantung padaniatnya

Apa niat anda saat mencari (dan menanti) jodoh anda? Apa niat anda (dan keluarga anda) saat menerima lamaran, saat merancang acara, saat menyebar undangan, saat berhias … niat adalah landasan perbuatan. Niat akan berpengaruh pada hidup anda; saat-saat anda bercengkerama dengan suami, saat anda kesakitan ketika melahirkan, saat anda terjaga tengah malam untuk mengganti popok bayi anda atau menemani suami yang sakit, saat anda mengantar anak anda sekolah…

Ketika seorang yang tampan (atau cantik), baik, mapan, berpendidikan tinggi, dan berasal dari keluarga terhormat, melamaranda (atau bersedia dilamar anda), atas dasar apa anda akan melakukannya? menolaknya, atau menerimanya?

Periksa motif & tujuan hidup anda, lalu bersihkan niat anda. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki niat, bahkan bagi mereka yang telah menikah sekalipun.

·Karena menikah adalah ibadahmakaniatkanlah menikah untuk mencari keridhoanNYA, bukan sekedar mengejar cinta mahlukNya.

Bagaimana dengan cinta? ‘Cinta akan cepat lenyap dengan lenyapnya sebab’ begitu kata Ibnu Qayyim; kulit bakal keriput, harta bisa habis, anak2 akan pergi.

Bertanyalah tentang cinta pada para orangtua di sekitar kita, mereka yang telah lama mengarungi biduk rumah tangga. Kita akan menemukan jawaban bahwa penyebab cinta yang insyaALLAH takkan pudar adalah makna kehadiran diri kita bagi pasangan kita. Terutama, apakah kita bisa menjadi penyejuk hati dan pandangan baginya?

·Menikahlah untuk menjaga dan membersihkan diri dari dosa, semata karena takut padaNYA. Bukan karena menuruti nafsu syahwat semata. Hubungan biologis itu penting dan sesuai dengan fitrah manusia, namun menikah bukan ’sekedar’ hubungan biologis semata.

·Menikahlah untuk memuliakan diri, pasangan dan keluarga, dengan mengharapkan barakah dariNYA, bukan mengharapkan keuntungan, kekayaan, kekuasaan dan sebagainya. Hal-hal yang bersifat materi adalah titipan dariNya; dan setiap titipan, sebelum diambil kembali olehNya, harus disyukuri dan dimanfaatkan untuk amal ibadah.

·Berharaplah keturunan yang banyak dan soleh. Bukan malah berencana membatasi keturunan karena khawatir tentang rizqiNya. Allah menekankan bahwa setiap anak memiliki rizkinya masing-masing, tinggal bagaimana jihad orangtua dalam menjemput rizki anak-anaknya. Rasulullah juga memerintahkan untuk memperbanyak anak, supaya umat Islam yang berkualitas bertambah banyak.

·Menikahlah untuk menegakkan dakwah. Kenapa ? karena setiap manusia adalah DA’I.

Janganlah sekedar mengikuti kebiasaan–kebiasaan dan nilai-nilai di tengah masyarakat, karena banyak diantaranya mengandung kemusyrikan.

Sandarkan pemikiran anda pada sumber yang jernih (Quran dan Hadist). Sebarkan nilai-nilai dan kebiasaan baik di tengah keluarga, tetangga, teman-teman, dan sebagainya. Cetaklah orang-orang yang juga akan terjun dalam dakwah.

Namun, terdapat perbedaan yang besar antara berniat dengan sungguh2 dengan bersungguh-sungguh mengada-adakan niat. Kita sering menyangka punya niat, padahal itu cuma angan-angan yang lalu kita jelaskan dengan akal. Mereka yang telah memiliki niat yang bersih (murni karena Allah) biasanyahatinya lebih tenang dan bebas dari pemikiran yang kotor.

PILIH-PILIH CALON PASANGAN

Noone Is Perfect

Manusia sering terjebak dalam obsesi tentang kesempurnaan atas calon pasangannya. Menetapkan kriteria (dan pilih-pilih) diperbolehkan, namun tetap harus disertai keiklasan atas siapapun yang Allah tetapkan. InsyaALLAH keiklasan akan memudahkan manusia dalam dalam beradaptasi & bertoleransi dgn kekurangan pasangannya.

Umumnya ada 4 hal yang dipertimbangkan :

1.harta; untuk memberikan berbagai fasilitas kemudahan dalam rumahtangga nanti

2.keturunan dan kemampuan reproduksi; untuk memberikan keturunan yang baik

3.kecantikan; sifatnya relatif, dan kadang manipulatif

4.kebaikan agama; untuk menjamin kebaikan pribadi dan keluarganya nanti

Sedangkan kaidah utamanya antara lain :

1.Kesamaan akidah (Islam)

2.Melaksanakan kaidah2 pokok Islam : shalat wajib, shaum ramadhan, membayar zakat, haji jika mampu, menutup aurat, mencari nafkah yang halal dll

3.Berakhlak mulia

4.Memiliki kesanggupan untuk berubah jadi lebih baik

5.Memiliki semangat & kesediaan untuk terlibat dalam dakwah

Menilai calon pasangan bukanlah hal mudah. Tidak mudah menilai keber-agama-an seseorang melalui shalat, puasa dan ritual Islam lainnya. Tidak mudah menilai akidah yang ada dalam hati, namun, akidah bisa mempengaruhi sikap dan perilaku.

·Amatilah akhlak dan kejujurannya kata-katanya.

·Amati rasa tanggungjawab dan penunaian amanahnya.

·Amati semangat dan sikapnya terhadap Islam.

Tanyakan keadaannya pada orang-orang yang dekat dengannya, orang-orang yang ‘netral’ dan dapat dipercaya. Kesekufuan atau kesetaraan dalam usia, pendidikan, ekonomi, bahkan budaya boleh saja ikut dipertimbangkan; namun tolak ukur yang utama tetaplah soal akidah.

Ketika data lengkap sudah didapat, ajukan padaNya lewat sholat istikharah. Jagalah hati dari keterikatan yang berlebihan padanya sebelum anda bertanya padaNya. Anda baru bisa menimbang & beristikharah dengan JERNIH bila anda belum terikat padanya. Kenapa harus bertanya padaNya? Karena Ia yang Maha Tahu siapa yang terbaik untuk kita. Bangunlah keiklasan atas apapun yang Allah akan tetapkan pada kita.

MITOS SULIT NIKAH

Dalam Islam tidak mengenal istilah sulit nikah. Pencarian tidak lewat doa saja, karena Allah SWT memberi jawaban atas segala permintaan disesuaikan dengan kadar usahanya. Sikap yang terbaik adalah proaktif, yaitu berdoa sekaligus melakukan upaya yang dibenarkan Islam.

Setelah doa dan usaha dilakukan, jodoh belum juga datang, apalagi yang harus dilakukan? sabar, tetap berpegang pada Islam, dan pasrah. Pasrah? Ya, pasrah dalam arti menyerahkan diri padaNya, karena kita adalah hambaNya, kita hidup dengan tujuan tertentu yang ditetapkanNya, dan Ia yang Maha Tahu yang terbaik untuk setiap hambaNya. Bukan pasrah karena kecewa, marah, bosan, melarikan diri, atau putus asa; bukan karena masalah ‘tahu diri’, gender, minder, probabilitas, atau keadilan.

Dalam Al Quran Allah mengarahkan manusia agar optimis dalam hidup. Manusia seringkali cepat mengeluh dan tergesa-gesa. Adakalanya pertolongan Allah tidak sesuai dengan logika atau harapan manusia; namun bukan berarti Allah mengabaikan mahlukNya. Manusia juga kadang berprasangka buruk padaNya, bahwa Ia tidak adil dan suka menghukum manusia; padahal Allah tidak pernah menzhalimi mahlukNya. Bahkan saat manusia diberiNya kemudahan pun, manusia sering berprasangka buruk padaNya; prasangka itu muncul dalam bentuk kesombongan; manusia menyangka kemudahan itu suatu kebetulan, keberuntungan, atau hasil usahanya semata.

MENYEGERAKAN ATAU TERGESA-GESA?

Menikah adalah satu dari tiga sunnah yang harus disegerakan. Bahkan mereka yang menyegerakan menikah atau membantu orang bersegeramenikah, dijanjikan akan mendapat perlindunganNYA di Yaumil Hisab. Namun, menyegerakan bukan berarti tergesa-gesa. Apa bedanya?

Jika anda naik motor dan menemui tikungan tajam, apa anda akan langsung belok tanpa mengurangi kecepatan untuk cepat sampai? atau anda akan kurangi kecepatan, menelikung miring, dan baru belok dengan menambah kecepatan lagi?. Kalau memilih yang pertama, anda mungkin akan terpental, dan baru setelah mengobati luka anda melanjutkan perjalanan lagi. Tidak mengurangi kecepatan ternyata tidak membuat anda sampai lebih cepat. Kalau anda memilih cara kedua, insyaALLAH anda dapat sampai tepat waktu, dengan keadaan selamat.

Jalan sebelum belok adalah masa lajang. Belokan adalah masa peralihan, proses menuju pernikahan. Jalan setelah belok adalah masa setelah menikah. Ketergesaan ditandai dgn perasaan tidak aman dan hati yang diliputi kecemasan, sedang menyegerakan menikah insyaALLAH akan mendatangkan ketenangan, sekalipun saat dirundung berbagai ujian. Ketenangan dan ujian bukanlah dua hal yang bertentangan;, namun ini tidak lahir dari kecemasan atau perasaan tidak aman.

TENTANG WALIMAH DAN BARAKAH

Mahasuci Allah yang telah menjodohkan kedua insan jauh sebelum keduanya bertemu.

Mahasuci Allah yang telah mengijinkan berlangsungnya akad nikah dgn restu kedua orangtua dan hadirin.

Mahasuci Allah yang dengan kasihsayangNYA telah menghalalkan bagi keduanya apa yg sebelumnya mutlak diharamkan.

Walimah (resepsi) adalah ungkapan syukur. Islam menganjurkan walimah untuk menampakkan nikmat dariNYA, demi mengagungkan kemurahanNYA. Walimah juga untuk menghindarkan teman/tetangga/saudara kita dari fitnah & tindakan memfitnah kita.

Seyogyanya walimah dilakukan sejauh kemampuan kedua belah pihak. Jika walimah dikaitkan dgn prestise keluarga maka pernikahan akan berubah menjadi masalah harga diri. Orientasi masyarakat akhirnya lebih memperhatikan hal-hal yang mengangkat prestise daripada apa yang membawa kebaikan bagi pengantin, keluarga dan masyarakat pada umumnya.

Dalam pernikahan yang paling utama adalah barakah. Pernikahan yang barakah akan menumbuhkan jalinan kasih sayang; makin lama makin sayang. Pernikahan yang barakah juga insyaALLAH akan menumbuhkan kebaikan bagi pasangan itu dan orang orang di sekitar mereka. Sebagian pernikahan kurang barakah jika motif, tujuan, dan niat pasangan itu maupun keluarganya kurang tepat; sebagian lagi karena proses pra nikah yang kurang bersih dan berubahnya tujuan atau menurunnya akhlak pasca nikah.

A compilation from :

  1. Kado Pernikahan Untuk Istriku ‘M. Fauzil Adhim’
  2. Tuntunan Pernikahan Dan Perkawinan ‘Abdul Aziz Salim Basyarahil’
  3. Majalah UMMI dan NIKAH

Sebuah Puisi

Oleh : Justine Hirscfeld & Brooke Brinsky. 11 tahun, Canada. Penyandang LD .
Dalam : Edisi pertama majalah Anak Spesial.

Aku hanyalah seorang anak,
aku butuh cinta juga,
hanya karena aku berbeda,
bukan berarti kau dapat mengabaikan aku.

Ketika aku melakukan sesuatu yang kecil,
tetap berarti suatu pencapaian yang besar bagiku.

Hidupku terlihat lambat dan kurang bercahaya dibanding yang lain,
tapi aku menolongmu menjadi sabar dan penuh syukur.

Dunia terberkati oleh orang special sepertiku,
menjadi nasibku menggapai dan menyentuh kehidupan orang-orang,
yang peduli padaku.

(Terinspirasi dari adikku Engkun dan muridku Evelyne)

True Friends

There is a common saying among non-religious people : Someone who has fallen on hard times has no friends. This is a good expression of the common idea that you cannot find a real friend when you need one. However, friendship, loyalty, and faithfulness are very important in a person’s life, for those who are in financial difficulty or ill, or in need of spiritual support, want a real close friend at their side—. Friend who is a believed —to help them.

But since all relationships in non-religious societies are based on opportunism, unbelievers can never find a true friend. Only when they are in trouble or need do people see the real face of those whom they had always considered to be their friends. Their supposed friends even give trouble to them in such difficult times. For example, people going through times of need complain that no relative calls, that they are left alone, and that no one gives them any support.
For example, a wealthy person who drives an expensive car and eats in gourmet restaurants generally has a wide circle of friends, including many close ones. But if he loses his job and starts to work in a salaried position in his own factory, how will his relationships fare? Will his circle of friends show him the same love and respect that they did when he was rich? Will he be treated with the same interest, respect, and affection as when he wore expensive clothes and drove a luxury car? How will he be treated if he dresses modestly, does not throw his money around like he used to, and does not treat his friends to dinners? Clearly, he will not enjoy the same attention. Indeed, all of those whom he thought were his friends will turn their back on him. When they meet him, they will pretend not to see him or even might ridicule him. Actually, this person’s spirit has not changed; only his external appearance has changed. But because his erstwhile friends rely on outward material appearances, they abandon him in a moment, leaving him all by himself.

Take another example, that of a married couple. When they were married, they promised to stay together both in good times and bad. But what happens when the wife becomes paralyzed below the waist due to an accident and thus cannot walk or do anything for herself? What will her husband do? Perhaps he will stay with her for a while and help. But when he realizes that this is a permanent situation and one from which he will never benefit, everything suddenly changes. This example clearly shows how unbelievers regard loyalty, fidelity, and friendship: When the profit goes, the connection ends.

Most of those who do not abandon their spouse in such a situation stay because they are afraid of what their friends may think, not out of love and compassion for the handicapped spouse. On the surface, they appear dedicated and loyal, but they never feel real compassion and empathy for their spouse when he or she most needs it.
Another frequently encountered situation seen in unbelieving societies that are far from the Qur’an’s morality is how young people behave toward their elderly parents. For years, their families met their every need; but when their parents become old and their limbs do not support them any more, the young people do not show their parents the same loyalty and attention. They feel fettered by their elderly parents and usually put them in an old people’s home.

However, Muslims show the loyalty in how they treat their family members. They feed their parents but may not eat themselves, and will take great care to meet all of their needs. Allah describes how Muslims must behave toward their parents :
Your Lord has decreed that you should worship none but Him, and that you should show kindness to your parents. Whether one or both of them reach old age with you, do not say “Ugh!” to them out of irritation, and do not be harsh with them; rather, speak to them with gentleness and generosity. (Surat al-Isra’, 23) .

In other words, Muslims will not complain about believers who are in need; rather, they will help in every way they can, humanely and out of a good conscience. The only place you can find real friendship, sincere loyalty, and faithfulness is among devout Muslims. Muslims are friends, advocates, and helpers to one another. Obliged by their moral character to consider the good and well-being of their friends, even when they fall into desperate straits, they always do their best to fulfill their friends’ needs before their own and take pleasure in their acts of self-sacrifice. When their friends are ill or in financial distress, they do not mind seeing to their every need even before they are asked to do so. Even if they lose sleep and go hungry, they will not see their Muslim friends treated unjustly or in any need. In the Qur’an, Allah tells us about the true friends of believers :
Your friend is only Allah, His Messenger, and those who have faith: those who establish prayer, pay alms, and bow. (Surat al- Ma’ida, 55)

Those who believe and have migrated and striven with their wealth and themselves in the Way of Allah, and those who have given refuge and help, they are the friends and protectors of one another. But as for those who believe but have not migrated, you are not in any way responsible for their protection until they migrate. But if they ask you for help in respect of the religion, it is your duty to help them, except against people with whom you have a treaty. Allah sees what you do. (Surat al-Anfal, 72)

by Harun Yahya